Pelatihan Jurnalistik Umat Hindu Batam
[Putu Setia: Merupakan Pelatihan Jurnalitik Pertama bagi Umat Hindu ]
  home

Umat Hindu di Batam sangat jeli dalam menangkap peluang. Pada tanggal 28 Agustus 2004, Forum Musyawarah Umat Beragama (FMUB) Kota Batam mengundang berbagai nara sumber dari masing-masing perwakilan agama dalam kegiatan seminar dan rapat kerja. Dari kalangan Hindu menghadirkan Putu Setia sebagai nara sumber. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh umat Hindu di Batam agar bisa memanfaatkan kehadiran Putu Setia untuk memberikan pelatihan jurnalistik.

Putu Setia adalah salah satu wartawan senior Majalah Tempo dan Koran Tempo. Bagi umat Hindu di Indonesia, tulisan Putu Setia sudah banyak dikenal dalam memajukan perkembangan Hindu di Indonesia baik di majalah Raditya maupun di Koran lokal. Oleh karenanya, umat Hindu di Batam merasa bangga bisa menghadirkan Putu Setia untuk memberikan pelatihan jurnalistik. Sebagaimana yang disampaikan Putu Setia, adalah wajar saja bagi umat Hindu di Bekasi juga merasa iri agar bisa melakukan pelatihan jurnalistik seperti yang dilakukan umat Hindu di Batam. 

Menurut Putu Setia, pelatihan jurnalistik bagi umat Hindu di Batam adalah yang pertama di Indonesia. Umat Hindu biasa sangat jarang yang berminat dalam kegiatan menulis, oleh karena Putu Setia pun merasa heran jika ada dari kalangan umat Hindu yang memintanya untuk memberikan pelatihan jurnalistik. 

Kehadiran Putu Setia di Batam tidak terlepas dari peran Wayan Catrayasa, sebagai sekretaris FMUB dan Ketua Parisada Hindu Dharma (PHDI) Kota Batam . Wayan Catrayasa betul-betul memanfaatkan kehadiran Putu Setia untuk menjadi nara sebagai wakil dari umat Hindu di kegiatan seminar dan rapat kerja FMUB dan juga memanfaatkan kelebihan yang dimiliki Putu Setia dalam bidang jurnalistik untuk memberikan pelatihan bagi umat Hindu di Batam. 

Nengah Santa sebagai ketua panitia pelatihan jurnalistik, mengatakan bahwa pelatihan jurnalistik umat hindu di Batam dilaksanakan pada tanggal 29 agustus 2004, bertempat di ruang rapat PT PLN Batam. Sedikitnya ada 20 orang yang menghadiri pelatihan tersebut. Sebagian besar yang hadir adalah dari kalangan muda-mudi. Ini mencerminkan semangat muda-mudi Hindu di Batam mulai bangkit untuk turut berperan membesarkan Hindu melalui media informasi. Ketua panitia merasa berterima kasih kepada Ida Bagus Mardawa sebagai salah satu karyawan yang bekerja di PLN Batam, yang telah membantu menyediakan tempat yang sangat representatif. Ini merupakan salah satu contoh semangat umat Hindu di Batam dalam hal "ngayah".

Walaupun pelatihan ini diadakan hanya dalam 3 jam, namun dari pengamatan nampak peserta sangat antusias menyimak apa yang dijelaskan oleh pembicara. Pada awal penjelasannya, Putu Setia mengingatkan dalam setiap menulis harus ada enam hal yang utama yang disingkat dengan 5W 1H (What, Where, When, Who, Why, dan How). Dengan memberikan contoh-contoh dalam penulisan headline yang sangat beragam dan menarik, peserta merasakan sangat mudah menyimaknya. Saat membahas tentang bahasa, para peserta menyadari sangat kurang dalam pemahaman menulisan bahasa Indonesia yang benar. Seperti antara penulisan peduli dan perduli. Yudi, salah satu peserta merasa kaget, ternyata yang benar adalah peduli. Banyak juga ditampilkan contoh-contoh menulisan kalimat yang selama ini salah kaprah dan peseta baru menyadari mana yang benar. 

Pada kesempatan itu, Putu Setia meminta kepada peserta agar jangan takut menulis. Awalnya memang tidak lancar, tapi lama kelamaan pasti bisa lancar. Seperti pena yang baru dipakai, awalnya tidak lancar, setelah sering dipakai jadinya lancar, demikian Putu Setia memisalkan.