Kunjungan Setdirjen Hindu Budha
"Batam Tidak Perlu Membangun Subak" 
  home

Demikian ungkapan Drs. Cokorde Raka Krisnu, Msi selaku Setditjen Hindu Budha ketika memberikan dharma wacana di hadapan umat Hindu kota Batam 17 September yang baru lalu di Pura Agung Amerta Bhuana.

Di penghujung kesibukannya mengikuti rapat kerja Departemen Agama yang diadakan di Kota Batam dari 16 sampai dengan 18 September yang lalu, Cokorde Raka Krisnu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan umat Hindu Batam sekaligus memberikan dharma wacana dan dharma tula.

Selaku Setditjen Hindu Budha Cokorde telah berkesempatan mengunjungi berbagai plosok tanah air yang penduduknya mayoritas memeluk agama Hindu, diantaranya Hindu Sidrap, Toraja, Mardinding, Tengger, Dayak dan lain-lainya. Dalam kunjungan-kunjungan tersebut ditemuinya adanya perbedaan-perbedaan dalam sistem ritual antara satu daerah ke daerah yang lainnya. Perbedaan sistem ritual tersebut hendaklah tidak menjadikan kita pesimis terhadap Hindu namun hendaknya kita memandang sebagai warna-warni yang memperindah wajah Hindu. Kefleksibelan Hindu beradaptasi dengan budaya setempat sangatlah menguntungkan perkembangan Hindu. Cokorde juga menasehatkan agar tidak memaksakan budaya Bali di luar Bali, kita tidak perlu membentuk Subak di Batam karena kondisi Batam yang umatnya mayoritas bekerja di sektor industri.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan Putu Setia ketika mengunjungi Batam bulan Agustus yang lalu yang menasehatkan jangan memboyong budaya Bali keluar Bali apa adanya. Dalam acara dharmatula I Nengah Santa menanyakan tentang eksistensi Pasraman dan Pesantian sebagai lembaga pendidikan Hindu. Cokorde menegaskan bahwa dalam Peraturan Pemerintah telah diakui Pasraman dan Pesantian adalah sebagai lembaga pendidikan Hindu. Dengan demikian pemerintah juga telah menyediakan dana bantuan kepada pasraman-pasraman yang telah ada. Untuk mendapatkan bantuan ini tentunya pasraman yang ada harus memiliki organisasi yang jelas serta memiliki rekening di suatu bank atas nama lembaga.

Dalam menjawab pertanyaan Gede Wiriada, Cokorde menyebutkan bahwa menjual keindahan pura adalah sesuatu yang wajar namun tetap harus memperhatikan batas-batas kesuciannya. Sedangkan dalam menjawab pertanyaan Putu Arya, Cokorde mengatakan bahwa libur dua hari untuk hari raya nyepi belum pernah diwacanakan dengan pemerintah, namun usulan hari raya Siwaratri sebagai hari libur nasional sudah sampai ke tangan pemerintah. Karena sempitnya waktu maka hanya tiga orang penanya saja yang mendapat kesempatan untuk bertanya. Ikut hadir dalam kesempatan malam itu adalah Wakil Bidang Administrasi