|
Batam – Kehadiran Pura Agung Amerta Bhuana telah memberi warna tersendiri terhadap perkembangan pariwisata di Batam. Bahkan Sekretaris Kota Batam ( SEKDAKO ) saat memberikan sambutan pada seminar Forum Musyawarah Umat Beragama (FMUB) baru-baru ini, telah memintanya untuk mengemas paket wisata terpadu yang bisa dijual ke Wisatawan Manca Negara yang berkunjung di Batam
Tentunya himbauan ini harus disambut dengan positif oleh IKB dan PHDI Kota Batam. Tinggal melanjutkan saja, karena sebenarnya IKB dari awal juga telah banyak berperan dalam proses pembangunan Pura. Wayan Subawa (islam) sebagai Ketua Harian IKB dan juga sebagai direktur pembangunan di Otorita Batam telah banyak membantu umat Hindu untuk memperlancar urusan pembangungan Pura dengan pihak Badan Otorita Batam.
Demikian juga peran Ketua Umum IKB, Wayan Gita yang telah datang ke Bali untuk beraudiensi dan mengundang Gubernur Bali agar berkenan hadir pada saat peresmian Pura Amerta Bhuana Oleh Menteri Agama 16 Juni 2004. Saat peresmian pura,Gubernur Bali, Dewa Berata bisa hadir dan sekaligus berdana punia 25 juta rupiah untuk dana pembangunan pura.
Langkah selanjutnya yang diperlukan adalah bagaimana mengemas paket wisata tersebut. Wayan Catra Yasa, Ketua PHDI Kota Batam ketika dihubungi untuk menanyakan tentang pemikirannya dengan pemerintah bersama IKB dan PHDI Kota Batam untuk mengemas paket pariwisata yang bisa dijual seperti yang pernah diutarakan oleh sekretaris Kota Batam saat memberikan sambutan di seminar FMUB baru -baru ini. “Tentu ada, sebenarnya dari tahun 2003 ketika saya sebagai ketua bidang Pariwisata di PERKIT, rencana saya bukan saja antara IKB dengan PHDI tetapi mengemas lebih detail dengan Dinas Pariwisata Pemeritah Kota Batam dan Otorita Batam serta instansi terkait. Terakhir saya juga sudah ditunjuk sebagai ketua bidang Pariwisata di Forum Melayu Nusantara Bersatu yang diketuai oleh Bapak Erdin Odang”, ujarnya.
Pengembangan bidang pariwisata akan diarahkan melalui pementasan Seni dan Budaya Bali setelah pembangunan wantilan selesai. “Secara non formal saya sudah bicara banyak dengan ketua Badan Promotion Tourism Boards bapak Rahman Usman. Pada prinsipnya beliau sangat mendukung apabila kegiatan ini bisa terwujud”, demikian Wayan Catra menegaskan.
Selanjutnya tinggal bagaimana IKB bersinergi dengan PHDI Kota Batam, membangun Pariwisata Batam. Dukungan ini telah dikuatkan oleh Gede Wiryada sebagai sekretaris IKB. “Sangat-sangat bagus karena etnis Bali maupun Hindu dapat muncul kepermukaan dengan percepatan yang spektakuler, bagaikan pesawat yang bermesin ganda”, demikian Gede menjelaskan dengan gaya bebondresannya.
Ketua PHDI Batam juga mengharapkan agar ini bisa terwujud. “Sangat diharapkan, artinya disamping kita mendapat keuntungan, juga nilai keakraban bisa terbina antara Hindu dan non Hindu. Tentu secara subyektif saya sebagai Ketua PHDI lebih banyak menitik beratkan kepada pembinaan umat Hindu yang mayoritas”, demikian Wayan Catra menjelaskan.
Harapan memang boleh ditanamkan. Namun dalam perjalanannya masih banyak kendala yang harus dihadapi baik pihak IKB maupun PHDI Kota Batam. Jadinya untuk mewujudkannya tidak secepat pesawat yang bermesin ganda seperti yang dikatakan Gede Wiryada.
Wayan Catra menegaskan, kendala yang dihadapi IKB sehingga belum bisa bergerak optimal adalah karena Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) belum dibuat sehingga belum ada dasar pijakan yang jelas dan juga tahapan sosialisasi belum optimal. Beberapa warga beranggapan bahwa dengan IKB lebih banyak mengandung muatan politik, saling dukung mendukung (dalam konotasi yang negatif ) dan lemahnya tingkat kesadaran bagi warga Bali untuk hidup di alam demokrasi dan berorganisasi misalnya berbeda pendapat dianggap sebagai bentuk perlawanan. Rasa trauma masa lalu dengan takut kalah sehingga masih banyak memilih untuk berdiam diri, terkesan eksklusifisme yang sulit membuka diri kepada lingkungan di sekitar.
Wayan Catra juga mengingatkan agar IKB mestinya memposisikan sebagai organisasi yang komprehensif yang mampu mengakomodir dari semua warga Bali pada sektor lintas agama. IKB secara terus menerus mensosialisasikan diri sehingga warga sampai tingkat bawah mengenal, mengerti, dan paham tentang tujuan, azas dan manfaat. Seluruh pengurus IKB harus secara berkesinambungan mengadakan rapat, membuat AD dan ART dan membuat program program dan pelaksanaan yang nyata -nyata dirasakan oleh warga.
PHDI Kota Batam juga ada kendala. “Sebenarnya telah berulang kali saya bicara dengan bidang seni dan pariwisata untuk menyusun rencana kerja tapi sampai saat ini belum saya terima matrik kegiatan itu” Demikian Wayan menyampaikan keluhannya kepada Ketua bidang Seni dan Pariwisata.
Ketika dikejar pertanyaan bagaimana kalau pesawat yang bermesin ganda ini diwujudkan dalam bentuk nyata seperti membuat paket wisata, apa yang kira-kira IKB lakukan?. “Menjalin kerjasama dengan PHDI, kita tetapkan melalui MOU, dan mengundang pihak terkait untuk ikut bekerja sama dalam pengembangan skala prioritas seperti paket wisata, karena kita memang menonjol di situ”, demikian Wayan Catra menjawabnya dengan mantap.
Untuk mempercepat realisasinya IKB dan PHDI Kota Batam perlu jemput bola seperti yang dilakukan etnis Cina ( warga Tionghoa ), dengan penampilan Barong Sai di segala kegiatan.
Tentunya upaya ini tidak hanya dalam harapan. Mudah-mudahan IKB dan PHDI kota Batam bisa membantu pariwisata Batam dengan menciptakan paket wisata yang menarik, yang tidak hanya tampil di pura namun juga tampil disetiap kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam dan Badan Otorita Batam.(end)
|