|
Grhastha adalah masa berumah tangga, masa menikah dan mengembangkan
keturunan. Dalam menempuh ashrama yang kedua ini diupayakan
terwujudnya rumah tangga/keluarga yang bahagia. Kebahagiaan
ditunjang oleh unsur-unsur material dan non material. Unsur
material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan/perumahan,
semuanya disebut artha. Unsur non material adalah rasa kedekatan
dengan Hyang Widhi yang disebut dharma, dan unsur non material
lainnya : pendidikan, sex, kasih sayang antara suami - istri - anak,
mempunyai keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga,
dan eksistensi sosial di masyarakat yang semuanya disebut kama.
Berkeluarga mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan
manusia karena melalui pernikahan lahirlah anak-anak yang disebut
putra.
Kata putra terdiri dari dua pokok kata yaitu "PUT" artinya
neraka, dan "RA" artinya menyelamatkan. Jadi putra adalah anak yang
menyelamatkan orang tuanya dari neraka.Disebut demikian karena anaklah yang
merawat orang tuanya ketika mereka secara phisik dan mental sudah tua dan kurang
mampu mengurus diri sendiri. Disamping itu sesuai dengan tradisi beragama Hindu
di Bali, anak mempunyai kewajiban melaksanakan upacara pitra yadnya bagi orang
tuanya yang sudah meninggal dunia, dengan tujuan agar roh/atma-nya terbebas dari
ikatan Panca Mahabutha dan Panca Tanmatra.
Cinta kasih dalam hubungan anak orang tua berlangsung timbal
balik; sejak anak masih dalam kandungan ibu sampai dewasa dan mandiri, orang
tualah yang berkewajiban mengurus dan setelah anak memasuki grhastha ashrama,
anaklah yang wajib mengurus orang tuanya. Hidup berkeluarga diawali dengan "pawiwahan"
maka oleh karena itu pawiwahan dalam Manawa Dharmasastra disebut sebagai "Dharmasampati"
artinya pelaksanaan dharma. Kebalikannya dan yang tergolong adharma adalah
perceraian.
Agar terwujud keluarga yang bahagia, Manawa Dharmasastra
Buku ke-3 (Tritiyo dhyayah) mengatur sejak cara melaksanakan pawiwahan sampai
cara membina keluarga bahagia.
Beberapa sloka yang penting antara lain :
21 : Brahmo daivastathaivarsah, prayapatyastathasurah, gandharva
raksasascaiva, paisacasca astamo dharmah (delapan cara
pawiwahan adalah : brahma, daiwa, rsi, prajapati, asura, gandharwa, raksasa
dan pisaca).
Dari delapan cara pawiwahan itu ada tiga cara yang dewasa
ini sudah tidak sesuai karena melanggar hukum yaitu : asura, raksasa dan
paisaca. Sedangkan diantara lima cara sisanya, yang paling populer adalah
prajapatya yaitu pawiwahan atas dasar cinta sama cinta dan direstui kedua
pihak orang tua. Selanjutnya cara gandharva di Bali sering terjadi, dimana
pawiwahan didasari oleh sama-sama cinta tetapi tidak diketahui (mungkin
tidak direstui) oleh salah satu pihak orang tua. Cara yang lain misalnya
brahma, daiva, dan rsi kini kurang populer di masyarakat karena ada unsur
campur tangan yang lebih kuat pada pihak orang tua sehingga terkesan sebagai
diarahkan atau dipaksaan. Beberapa sloka yang perlu diketahui dalam
melakukan hubungan sex antara suami - istri antara lain :
45 : Rtu kalabhigamisyat, swadaraniratah sada, parwawarjam wrajeccainam, tad
wrato rati kamyaya (hendaknya suami menggauli istrinya
dalam waktu-waktu tertentu dan selalu merasa puas dengan istrinya seorang; ia
juga boleh dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk
mengadakan hubungan sex pada hari apa saja kecuali hari parwani = purnama/tilem).
48 : Yugmasu putra jayante, striyo yugmasu ratrisu,
tasmadyugmasu putrarthi, samvice dartave striyam (kalau
menggauli istri pada hari-hari yang genap maka anak laki-lakilah yang lahir,
sedangkan pada hari-hari yang ganjil anak perempuanlah yang lahir; karena
suami yang menginginkan anak laki-laki hendaknya menggauli istrinya hanya
dimasa yang baik pada hari-hari genap).
Yang dimaksud hari-hari genap adalah bilangan genap pada
panglong dan penanggal. Panglong adalah hari-hari dari purnama ke tilem,
sedangkan penanggal adalah hari-hari dari tilem ke purnama. Sehari setelah
purnama, disebut "panglong ping pisan (1)" ini disebut hari ganjil sedangkan
besoknya "panglong ping kalih (2)" disebut hari genap demikian seterusnya
panglong ganjil dan genap silih berganti sampai panglong ping 14; panglong
ping 15 adalah tilem, disarankan tidak mengadakanhubungan sex. Sehari
setelah tilem (bulan gelap) disebut "penanggal ping pisan (1)" sebagai hari
ganjil dan keesokan harinya disebut "penanggal ping kalih (2) sebagai hari
genap, demikian seterusnya penanggal ganjil dan genap silih berganti sampai
penanggal ping 14. Penanggal ping 15 adalah purnama, disarankan untuk tidak
mengadakan hubungan sex. Dalam Kamasutra dijelaskan lebih rinci tentang
cara-cara mengadakan hubungan sex. Hal penting yang dilarang adalah
mengadakan hubungan sex dengan meniru cara-cara binatang, dan hubungan sex
disaat istri sedang menstruasi. Hubungan sex juga dilarang disaat salah satu
atau keduanya sedang mabuk, tidak sadarkan diri, takut, sedih, dan marah.
Peranan istri dalam keluarga sangat penting seperti yang
dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra
III.56 : Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na
pujyante, sarwastatraphalah kriyah (dimana wanita
dihormati disanalah pada dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak
dihormati tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala).
57 : Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita,
wardhate taddhi sarvada (dimana warga wanitanya hidup
dalam kesedihan, keluarga itu cepat akan hancur, tetapi dimana wanita itu
tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia).
60 : Samtusto bharyaya bharta, bhartra tathaiva ca, yaminneva kule nityam,
kalyanam tatra vai dhruvam (pada keluarga dimana suami
berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya,
kebahagiaan pasti akan kekal).
Pelaksanaan dharma dalam hidup berkeluarga ditegaskan dalam
MD.III. 63, 66, 75, 94, 106, 117 dan 118.
Pada intinya mengatur agar suatu keluarga senantiasa melaksanakan pemujaan
kepada Hyang Widhi, mempelajari, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Weda,
menghormati orang - orang suci, menghormati tamu yang datang kerumah, dan
berdana punia.
Wanaprasta
|