Orang Besar
 
  home

oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com), 26 Agustus 2005

Ada yang menyebut dirinya orang besar. Karena sekarang merasa dirinya sudah besar. Besar dari segi umur. Mereka mengira sudah bisa melakukan semuanya. Masukan dari orang lain dicampakkan begitu saja. Tetangga berteriak dibiarkan meraung-raung. Kenapa sampai begini? Karena dia sudah melihat dirinya sudah besar, sepertinya yang diluar nampak jadi kecil.

Begitulah sekelumit kisah orang yang mengaku sudah besar. Benarkah mereka sudah besar? Apakah orang besar yang sebenarnya diharapkan oleh kebanyakan orang?

Orang besar tapi sudah salah kaprah. Dia sudah menutupi wajahnya dengan penuh kebohongan. Karena sudah ditutupi, maka yang diluar akhirnya dilihat gelap gulita. Diluar tidak ada yang benar menurutnya. Dia akhirnya membabi buta. Segala hal dilakukan sesukanya. Teriakkan orang lain tidak dihiraukan. Bahkan teriakan dari dalam dirinya pun ditanam begitu saja. Dibiarkan bungkam dengan dengan sekelumit kebohongan. Seperti srigala yang siap menerkam lawannya, hak orang lain pun dirampasnya.

Tidak akan pernah ada yang bisa menyadarkannya; kecuali dari dalam dirinya. Satu-satunya kesempatan yang ada adalah saat orang besar tadi mengalami keterpurukan. Hanya yang ini diharapkan untuk melepaskan segala selimut kebohongan yang menutupinya, menghanguskan segala nafsu serakahnya dan membiarkan dia kembali berangkat dari awal.

Saatnya sekarang dia lahir yang kedua kali nya selama hidup ini. Dia kubur jauh-jauh segala kekeliruan yang dilakukan. Mulailah dia menghadap sang jati diri yang tertanam di dalam diri. Dengan duduk bersila, dia memanggilnya dengan suara gayatri.

Ya bangkit, bangkitlah! Sang Jati Diri telah terbangun setelah ditidurkan dengan selimut kebohongan. Dengan duduk bersila, dia menghadap Sang Jati Diri, memohon ampun atas segala kekeliruannya yang telah berakhir dengan penderitaan.

Sang Jati diri meraba dan menatapnya, sambil berkata:” Kamu bisa menjadi orang besar yang sebenarnya, asal kamu bisa membuang kekeliruan mengartikan orang besar selama ini. Orang besar belum tentu orang sekolahan. Orang besar belum tentu orang berumur. Orang besar adalah orang yang bisa berjiwa besar.”

Dia terperangap mendengar penuturan Sang Jati Diri. Sepertinya dia baru tahu apa yang dilakukannya sudah keliru. Dia menyadari tidak mau terulang kekeliruan lagi. Maka dia pun mempertanyakan lagi kepada Sang Jati Diri:” Apa yang saya lakukan agar bisa berjiwa besar untuk tidak keliru yang kesekian kalinya?”

“Mulailah terbuka dengan orang lain untuk mau menerima saran orang lain. Karena sebenarnya orang lain telah menyadarkan dirimu agar tidak terjerumus kedalam lubang kehancuran. Gunakanlah selimut kejujuran agar bisa menghangatkan Sang Jati Diri. Belajarnya untuk selalu bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang dilakukan. Sadari segala resiko yang akan terjadi agar tidak terjebak pada ranjau penderitaan. Selalu belajar lebih peka terhadap diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dan selalulah ingat untuk menghadap kepadaKu”, demikian Sang Jati Diri menasehatinya.

Setelah mendengar nasehat tersebut, raut mukanya sekejap berubah bertanda dia segera bangkit kembali. Nampak sinar dari raut mukanya. Dia pandang jauh ke depan, seperti ada jalan yang telah menuntunnya. “Terima kasih, terima kasih”, ucapnya dalam hati.

 

---ooo---

[Kembali ke Atas]