oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com),
20 Agustus 2005
Suatu ketika diadakan sebuah lomba menggambar di sebuah sekolah minggu.
Perlombaan ini merupakan perwakilan dari masing–masing 5 wilayah yang
ada. Sebutlah nama anak tersebut yang berhak mewakili masing-masing
wilayahnya: Bejo, Kaler, Putri, Diah dan Pandu. Tidak tanggung-tanggung,
perlombaan kali ini memperebutkan juara satu saja dan berhak untuk
menginap bersama orang tuannya di sebuah hotel berbintang. Hadiahnya
dipersembahkan oleh sebuah lembaga pengembangan anak international. Anak
cukup menggambar sebuah pemandangan di rumah masing-masing dan kemudian
diserahkan ke panitia lomba.
Karuan saja, iming-iming hadiah tersebut membuat orang tua anak tersebut
berkeinginan memenangkan hadiah yang disediakan. ”Sini Nak Putri, biar
Papa yang membuatkan gambar pemandangan! Papa akan buatkan gambar
pemandangan yang paling bagus, agar bisa juara! Kalo juara kan bisa
nginap sekeluarga di hotel berbintang tersebut. Ini kesempatan, jangan
disia-siakan. Bayangkan, seumur-umur papa ngak bakalan bisa ke hotel
berbintang tersebut. Gaji papa ngak cukup disisihkan untuk menginap di
hotel berbintang yang sangat mahal tersebut” Ujar orang tua Putri
meyakinkan anaknya. Putri hanya terdiam, dan hanya bisa menuruti
kehendak orang tuanya. Pencil, pewarna dan kertas gambar yang telah
disiapkan diserahkan ke orang tuanya.
Tiba pada hari pengumpulan gambar, sekaligus pengumuman dan penilaian
gambarnya. Kelima gambar yang tampil memberi corak yang berbeda. Nampak
gambar Putri yang paling bagus; gambar yang paling jelek adalah gambar
Bejo. Gambarnya sangat polos, sesuai dengan bakatnya. Tim juri
menetapkan kepada Putri sebagai pemenang dan berhak untuk menikmati
hadiah yang diraihnya, menginap di hotel berbintang bersama orang tuanya.
Orang tua Kaler, Diah dan Pandu tidak puas; mereka mengeluhkan, kenapa
Putri sebagai pemenang. “Mana mungkin seorang Putri baru kelas satu SD
bisa menggambar seindah itu”, Keluh mereka. Protes mereka tidak
dihiraukan oleh panitia, karena kriterianya saat itu ditekankan kepada
keindahan. Tidak ada kriteria lainnya.
Tahun berikutnya, diselenggarakan lomba yang sama. Ketiga orang tua yang
tidak puas tersebut, ingin anaknya bisa sebagai pemenang. Orang tuanya
pun ikut terlibat membantu menggambar, karena tidak mau kecolongan
seperti gambar Putri. Bahkan salah satu orang tua tersebut menyuruh ke
tukang gambar untuk mendapatkan gambar yang paling bagus. Bejo tak mau
ketinggalan untuk merayu orang tuanya. ”Pak, buatkan gambar buat Bejo,
biar Bagus, seperti gambar Putri dulu. Kalo menang kan bisa sama-sama
nginap di hotel berbintang!” Bapak Bejo terdiam, dan hanya menyuruh
kepada Bejo yang menggambar. Bejo pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan
hanya menggambar sesuai dengan kemampuannya. Bapak Bejo hanya mengawasi
dari kejauhan sambil baca koran.
Semua gambar sudah siap dikumpulkan. Juri mulai menyeleksi satu per satu.
Terpilih kemudian, gambar Bejo yang menjadi pemenang. Kali ini ke empat
orang tua murid lainnya protes.” Kenapa kok gambar Bejo yang juara?
Gambar jelek kok bisa menjadi juara?”, Demikian keluh mereka. Protes
mereka tidak dihiraukan lagi oleh panitia, karena kriterianya saat ini
sudah dirubah dan ditekankan kepada kejujuran. Tidak ada kriteria
lainnya.
Menanam benih kejujuran harus dilakukan dalam praktek kehidupan
sehari-hari dan dilakukan sejak dini. Orang tua yang terbiasa menanam
benih kebohongan kepada anaknya, maka setelah besar akan membuahkan buah
kepalsuan, baik itu dalam bentuk korupsi atau pun kejahatan lainnya.
Jadi untuk membentuk generasi mendatang yang tangguh dan bermoral, harus
melalui benih yang bagus. Salah satunya benih kejujuran!
---ooo---
[Kembali ke Atas]