Berburu Para Dharma, Penyesalan Tiada Berguna
 
  home

oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa, 03 Februari 2007

Om Swastyastu,

Umat Se-Dharma Yang Berbahagia, Setelah beribu-ribu tahun lamanya hidup sebagai mineral, bakteri, binatang melata, binatang berbisa, binatang buas, hewan piaraan, akhirnya sang jiwa mencapai kehidupan sebagai manusia. Maka dengan demikian jangan pernah menyia-nyiakan hidup sebagai manusia, karena selain langka juga melalui perjuangan yang sangat panjang. Evolusi jiwa itu telah mengalami pengambilan bentuk berulang dan waktunya ribuan tahun.

Kita pergi ke dunia fana ini bagaikan pergi piknik, karena waktunya sangat singkat, dalam tempo waktu ke depan yang tidak bisa diprediksi kita pasti akan mengalami kematian. Itu sudah pasti saudaraku. Nah kemudian apa yang perlu kita persiapkan untuk menunggu kematian itu? Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan dan dibarengi oleh kejenuhan akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam jiwa, pikiran dan badan biologis kita. Ketika itu tidak seimbang, maka akan terjadi goncangan yang maha hebat yang merusak partikel energi tidak teratur. Molekul berhamburan sampai mengganggu pusat syaraf. Intimidasi pikiran yang dipengaruhi oleh kegiatan berburu pada para dharma, ketertarikan pada kegemerlapan duniawi akan menjadi toksin berat dan beracun dalam kesinambungan dan keharmonisan hidup.

Terlena dengan para dharma akan mencelakakan jiwa ke dalam lembah nestapa. Hal ini tidak kita inginkan karena jiwa akan reset kembali pada kehidupan yang lebih nista. Berbanding terbalik dengan tujuan agama Hindu yakni mencari kedamaian yang nan abadi, alam nirwana dan menyatunya atman dengan paramatman.

Coba kita hitung dan cermati dalam kehidupan yang telah kita lalui, berapa persen kegiatan itu untuk memikirkan pendekatkan kepada Tuhan, berapa persen hanyut dalam kegiatan para dharma? Berapa waktu yang kita pakai untuk tidur? Dari situ kita akan mendapat gambaran bahwa waktu kita sangat singkat. Tunggu apalagi, mulailah dengan secara terus menerus menyelami kehidupan dengan menjalankan kewajiban swadarma, dengan ikut partisipasi aktif dalam kegiatan kerohanian, apapun wujud productnya sejauh untuk penerapan dan pencapaian lokasamgraha, itu akan mendapatkan pahala pada peningkatakan pada sang jiwa kea rah yang lebih baik dan utama.

Kegiatan swadarma yang dimaksud adalah mulai mengenali diri sendiri, siapakah sebenarnya diri kita dan apakah tujuan kehadiran kita di dunia ini? Saudaraku, belum ada kata terlambat, meskipun bagaima keadaan kita sekarang. Misalnya kita bergelut menjalani kehidupan di rumah tangga dengan berbeda pandangan, apalagi prinsip agama masih berbeda. Bagaimana pengaruh orang ke tiga dalam kehidupan grehastem paricarya pradipa. Kesulitan yang dialami bak di kawah candra dimuka, betul betul mengalami treatment dalam suka dan duka, suka tan pawali duka.

Meskipun begitu, kita hendaknya tak pernah lupa dengan Tuhan, seperti bunga teratai yang hidup di air yang penuh Lumpur, dia tidak terpengaruh, tetap mempersembahkan bunga yang indah warna warni, dan seaatpun tidak pernah lupa dengan rembulan di atas sana, kerinduannya kepada bulan tak pernah pudar. Begitu juga kewajiban kita sebagai umat Hindu melalui pelaksanaan palemahan, pawongan, dan parahyangan serta kawitan pada leluhur, janganlah diabaikan. Karena sekali lupa, maka hal itu akan menjadi kebiasaan.. Begitu juga karena kita berada jauh dari orang tua, kadang ayah dan ibu bertanya tentang kesehatan kita, keselamatan kita, dan bagaimana kita melaksanan kewajiban agama di rantauan? Apabila berbeda pandangan prinsip sedang berkecamuk dalam kehidupan rumah tangga kita, apakah kita mesti berbohong kepada guru rupaka itu? Misalnya dengan mengatakan Istri saya sangat setia, patuh menjalankan ajaran agama Hindu. Saya pikir itu adalah bagian dari kemunafikan yang tidak akan mendapat manfaat dalam kehidupan mendatang.

Apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan dan apa yang kita perbuat, sesungguhnya itulah kita. Ketika kita berpikir untuk membual dan berbohong kepada siapapun juga sebenarnya kita dengan tanpa di sadari telah berada di jalur neraka. Apalagi ditambah dengan sadar kita tidak melasanakan swadarmaning agama, artinya kalau kita proklamirkan diri sebagai umat Hindu, maka kewajibannya apa saja, silahkan inventarisasi.

Ketahuilah, bahwa penyesalan di kemudian hari tiada berguna, karena setiap hari kita mengalami defisit atau energi negatif dalam bentuk perbuatan yang sifatnya penolakan dengan suara hati nurani. Kita harus mengarahkan pada sistem deposito yang selalu menjadi debet atau nilai plus pada setiap pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar, sesuai dengan Tri Kaya Parisuda.

Ingatlah mulai sekarang, janganlah hanya mementingkan kegiatan para Dharma tetapi pusatkan pikiran menuju pada kegiatan swadarma. Yakinlah pada diri kita sendiri, kalau menjalankan tugas sebagai kewajiban memalui penjabaran nilai nilai luhur keagamaan, maka kebebasan pasti akan kita raih dengan suskes gemilang.

Semoga berguna,

Om Santih, Santih, Santih, Om

---ooo---

[Kembali ke Atas]