Menerapkan Kesadaran Spiritual dengan Model Quality Manajemen System
 
  home

oleh: Si Putu Sumardhaya (email ada di redaksi) , 17 Juni 2005

 

Tingkat kesuksesan kalau diukur dari pemahaman para dharma sangat mudah kita tetapkan. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan bisa memiliki mobil hari ini, kita mengatakan diri kita sukes. Diangkat menjadi Superintendent dari seorang supervisor kita menjadi bangga bahwa kita suskes dalam dunia karir. Memiliki rumah mewah setelah pindah dari rumah RS, mungkin kita mengatakan kita adalah istri atau suami idaman. Demikian juga dengan kesuksesan kesuksesan yang lain, yang begitu membuat kita terkesan. Kita bangga, kita kagum dan senang dengan kesuksesan tersebut karena ada pengakuan yang bisa diukur, dilihat dan dirasakan oleh orang lain.

Kalau kita berjalan di jalan dharma, jalan penuh keheningan yang mungkin hanya Sang Diri saja yang dapat merasakannnya. Bisakah kita menjawab seberapa sukseskah kita dalam kehidupan spiritual kita. Karena topik ini hanya ada dalam dunia keheningan, pertanyaan ini akan sangat sulit dijawab. Sebagian dari kita tidak akan memusingkannya karena mungkin topic ini tidak penting. Tapi bagi teman teman yang tekun menjalani Dunia spiritual, tingkatan spiritual akan menjadi suatu yang penting. Penting karena memang bukan untuk dibanggakan, bukan untuk dipamerkan, tetapi tingkatan itu penting karena merupakan tingkatan sejauh mana sang diri bisa menerjemahkan diri ke dalam gambaran utuh yang bernama Atman.

Bagaimanakah agar kita dapat merasakan kesadaran spiritual kita tersebut? Kuncinya adalah kita mesti belajar memiliki Sistem spiritual yang merupakan sistem yang menyeluruh dan selalu menuju kesadaran Braman itu sendiri. Dikatakan utuh karena kita harus memiliki kesadaran yang Fokus akan brahman, menjadikan sang Atman sebagai pengetahuan, Jalan Spiritual sebagai Media dan Meditasi sebagai alat evaluasi diri.

1.Kesadaran yang Berfokus Kepada Brahman

Pada tahap ini, seseorang yang mengembangkan kecerdasan spiritualnya harus mempunyai visi dengan fokus pada pelanggan dengan bahasa spiritual dinamakan Brahman. Penyebutan bahasa tidak akan masalah sepanjang sentral pikiran kita adalah Sang Pencipta itu sendiri. Kalau kecerdasan spiritual kita telah difokuskan pada Brahman ini, maka bentuklah sebuah rangkaian kata-kata apa yang mesti kita lakukan dengan pelanggan kita yang bernama Brahman.

Visi ini akan ditentukan oleh pengetahuan empiris kita selama ini. Sebagian yang baru pada tingkatan Anumana Pramana bisa mengembangkan Visi: “Mengetahui arti dan makna Brahman dengan mempelajari kitab suci Weda”. Bagi yang sudah sampai pada tingkatan pratyaksa pramana mungkin visinya adalah: “Membangkinkan Kesadaran diri untuk dapat meilhat sang Brahman”.

Jadi apapun visi tersebut, sepanjang didasari oleh kesadaran Brahman atau bukan dilandasi oleh Para Dharma, adalah bersifat positif. Bisa saja visi tersebut ditulis dalam bahasa yang singkat seperti “Menjadi Pelayan sesama yang baik”. Berikanlah sebagian kecerdasan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang bukan dilandasi oleh para Dharma.

Setelah memiliki visi spiritual, pertanyaan selanjutnya adalah: Kapankah hal tersebut akan dicapai? Aduh, pertanyaannya menjadi semakin sulit. Disinilah sulitnya dan titik kritisnya kalau kita mau mengukur tingkat spiritual kita. Bagi yang mempunyai keberanian spritual akan sangat mudah menetapkan visi tersebut. Katakanlah visi yang sederhana: “Saya tidak akan berbohong di tahun 2005” atau lebih sederhana lagi: “Saya tidak akan marah di tahun 2005”.

Jadi diperlukan keberanian spiritual untuk menetapkan target spiritual kita. Mungkinkah? Jawabnya sangat mungkin sekali karena kesadaran tersebut sebenarnya sudah melekat pada sang diri. Yang sulit adalah melatih dan mengembangkan kesadaran tersebut. Debu-debu kegelapanlah yang menutupinya sehingga kita dibutakan olehnya. Bahwa sebenarnya ada sinar ilahi dari Hyang Widhi yang mengalir dalam Sang Diri namun tidak tampak karena kegelapan itu sendiri. Kebodohan kita selama inilah yang kita banggakan. Bukankan kegelapan dan kebodohan tersebut menjadi ganjalan dalam keseimbangan jiwa kita ? Bila ya kenapa mesti dipertahankan? Jadi menetapkan visi, objektif dan target spiritual kita sangatlah menguntungkan bukan?

Mudah-mudahan di awal tahun Caka kemarin banyak diantara kita yang sudah menetapkan visi, misi, objektif dan target spiritualnya di tahun ini. Apabila ada, maka mudah-mudahan tidak lupa dan diingatkan oleh tulisan ini. Bagi teman-teman yang berjalan di dunia kejernihan, semoga tulisan ini menjadi system yang menarik untuk awal menentukan tingkat spiritual kita.

Jadi, apa visi, misi, objektif dan target spiritual anda hari ini ?

 

(Bersambung)

 

---ooo---

[Kembali ke Atas]