oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa,
21 Desember 2006
Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia, Siapa yang mempunyai kesadaran penuh dan
mengembangkan wiwekanya, tidak akan mengalami penderitaan dan tidak akan
dihinggapi rasa takut. Hanya orang yang mempunyai keterikatan kepada
badan dan benda akan mengalami rasa takut dan penderitaan. Karena itu,
Khrishna menyuruh Arjuna mengembangkan pandangan yang menyeluruh.
Pandangan yang menyeluruh ini diistilahkan dengan kata sudarshana yang
berarti pandangan yang baik. Dewasa ini manusia mempunyai tiga jenis
pandangan. Yang Pertama adalah pandangan yang berorientasi lahiriah.
Pandangan ini dangkal, orang semacam ini hanya melihat penampilan luar
orang lain seperti pakaian dan perhiasan yang dipakai, roman muka,
ukuran tubuh dan ciri-cirinya, kekhasan suara dan sebagainya. Pandangan
ini semata-mata berorientasi pada dunia yang kasat mata.
Pandangan yang kedua adalah pandangan bathin. Pandangan ini tidak
melihat ciri-ciri luar orang lain. Orang yang mempunyai padangan bathin
ini melihat tingkah laku orang lain dari pencerminan sikap, tabiat,
tindak tanduk, dan ekspresinya. Karena itu orang yang mempunyai
pandangan bathin berusaha mengetahui perasaan yang timbul dari hati
seseorang dan buah pikirannya,sebagaimana tercermin dari apa yang
dikatakan dan dilakukannya. Dengan kata lain, orang yang berorientasikan
bathin melihat gejala lahiriah yang mencerminkan keadaan bathin. Sikap
orang yang berpandangan demikian yaitu ia selalu berbicara dan bertindak
menurut perasaan dan pikirannya.
Pandangan yang ketiga adalah pandangan atma. Orang yang mempunyai
pandangan atma tidak membatasi persepsinya hanya pada penampilan
lahiriah orang lain, atau pada perasaan seperti yang tercermin pada
perbuatan dan ekspresinya, namun orang tipe ketiga ini telah
mengembangkan pandangan yang terpadu. Ia melihat kemanunggalan bathin,
kesadaran Tuhan yang ada pada setiap manusia, walaupun ada perbedaan
fisik dan perbedaan tingkah laku semuanya mengalami perubahan dan
pergantian. Karena itu, orang dengan pandangan atma tidak tertarik atau
merasa senang atau tidak senang pada wujud fisik atau expresi orang
lain. Pandangannya terpusat sepenuhnya kepada Tuhan sebagai penghuni
tubuh. Ini merupakan pandangan yang suci.
Orang yang mempunyai persepsi yang utuh seperti itu menjadi alat Tuhan.
Bukan saja ia menjadi alat Tuhan, tetapi sesungguhnya ia merupakan
perwujudan dan personifikasi Tuhan sendiri. Kata Upanisad orang yang
menyadari Brahman menjadi Brahman. Karena itu orang yang mempunyai
pandangan demikian suci mempunyai sifat keTuhanan. Manusia akan menjadi
seperti apa yang dilihat atau dibayangkannya. Untuk menjadi orang
stithiprajna, orang yang mempunyai kebijaksanaan tertinggi, kita harus
mengembangkan pandangan yang terpadu atau sudarshana dan terus menerus
merenungkan ke Esaan diri sejati yang berada dalam segala keanekaragaman
lahiriah. Karena itu, Krishna memerintah Arjuna agar selalu mengarahkan
pandangannya kepada atma dan memegang Teguh pandangan yang utuh itu
dalam keadaan apa pun.
Satyam Evam Jayathe,
Om Santih, Santih, Santih, Om
---ooo---
[Kembali ke Atas]