Selayang Pandang Tentang Homa/Agni Hotra
 
  home

oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa, 07 November 2006

Om Swastyastu,

Di mana doa dan puja dilakukan maka disanalah pusat bumi berada. Begitulah yang pernah saya dengar dalam sebuah seminar dalam rangka Kongres I tokoh agama seluruh Indonesia di Jakarta yang diadakan oleh Departemen Agama RI. Saya terkesan sekali sehingga makna untaian kata itu terasa begitu melekat dalam pikiran saya. Saya teringat dengan penyebutan nama Tuhan secara berulang-ulang ketika sering mengikuti upacara Agni Hotra dalam berbagai manifestasi Tuhan atau Ista Dewata yang dipuja sesuai tujuan yang diharapkan. Vibrasi spiritual yang saya rasakan begitu besar saat mendengar lantunan nada mantram yang bersumber pada Weda itu.

Menurut saya upacara Agni Hotra sangat perlu disosialisasikan dan dilaksanakan secara terus berkesinambungan, kapanpun dan dimanapun kita berada. Lantas bagaimana sejarah dan perjalanan upacara Agni Hotra serta pemahaman dan respon umat Hindu yang merupukan pemilik dari yadnya suci yang maha utama itu? Kenapa kita begitu asing mendengar mantram-mantram yang sebenarnya diambil dari intisari Weda? Bukankah Weda itu sejak dahulu kala telah menjadi kitab suci umat Hindu? Agni Hotra adalah sebagian kecil dari segudang yadnya yang bersumber pada Weda.

Pada jaman dahulu di Bali, upacara Agni Hotra mengalami krisis pengikut sampai akhirnya tidak dilaksanakan lagi. Kemudian pada kisaran tahun 90an Agni Hotra muncul kembali bagaikan mengalami reinkarnasi, meskipun Agni Hotra yang dirintis bukan Agni Hotra yang muncul pertama. Memang ada beragam Agni Hotra yang telah ada sebelumnya, lengkap dengan misi perguruannya (Sampradaya), chanda, bahan material yang digunakan, beserta susunan Agni Hotra.

Dalam perjalanannya yang cukup panjang, banyak orang telah mendapatkan manfaat setelah melakukan dan mengikuti yadnya Agni Hotra. Beberapa manfaat seperti kesembuhan dari sakit, keharmonisan keluarga, perjalanan spiritual semakin meningkat, serta permohonan lain yang menapak ke hal yang positif. Namun semestinya tidak dilupakan bahwa Agni Hotra tidak dilaksanakan semata-mata untuk mendatangkan manfaat-manfaat tersebut. Ada tujuan yang lebih mulia dari hanya sekedar mendapat mukjizat.

Sejak jaman dahulu pada waktu para Maha Rsi yang agung telah melaksanakan Agni Hotra, maka yadnya Agni Hotra sejak itu secara implisit mengandung hal-hal itu. Tetapi para Maha Rsi ini sangat menghindari pelaksanaan Agni Hotra yang bersifat Rajasika (nafsu, keinginan) karena hal itu dapat mengurangi nilai luhur yang terkandung dalam mantra-mantra yang diucapkan.

Agni Hotra telah lama dijalankan oleh para Maha Rsi kita di Bali seperti yang disebutkan dalam beberapa naskah lontar misalnya : Agastya Parwa, Lontar Bali Pulina, Lontar Widhi Sastra, Lontar Wrespati Tattwa, Lontar Peranda Sakti Wawu Rauh,  dan Lontar Purba Sesana. Seluruh lontar tersebut menyebutkan bahwa Agni Hotra adalah upacara Sattwika yang memberikan manfaat yang luar biasa.

Dalam Lontar Wrespati Tattwa dinyatakan:
"Dharma ngaranya: sila ngaraning mangaraksa acara Rahayu, yajnya ngaraning manghanaken homa, tapa ngaranya umati indriyanya, tan wineh ring wisanya, dana ngaranya weweh, pravrjaya ngaraning wiku andaka, bhiksu ngaraning diksita, yoga ngaraning magawe Samadhi, nahan prtayekaning dharma ngaranya" (25)

Artinya:
Pelajaran dharma meliputi : Sila melaksanakan tingkah laku yang baik, yadnya berarti melaksanakan upacara homa ( Agni Hotra ). Tapa berarti mengendalikan indria, tidak terikat pada obyeknya. Dana berarti memberi ( pemberian sesuatu kepada yang memerlukan ). Pravrja berarti pandita yang melakukan puasa ( pertapaan ), Bhiksu berarti melaksanakan upacara dwijati, menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi. Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma.

Ditegaskan kembali dalam Chanakya Nitisastra, VIII.10 :
"Agni Hotra bina veda na ca danam bina kriyah, na bhavena bina siddhis tasmad bhavo hi karanam"

Artinya:
Pelajaran Veda tanpa pengorbanan suci Agni Hotra adalah sia-sia. Korban suci tanpa disertai dana punia tidaklah sempurna. Tanpa disertai rasa bhakti semua itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan.

Dari pemaparan yang sangat singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kita telah dituntun untuk melaksanakan yadnya suci Agni hotra sebagai yadnya yang utama dengan berdasarkan kitab suci Weda. Mulai sekarang janganlah ragu-ragu untuk melaksanakannya. Kembali ke Veda berarti kita memberikan kesempatan kepada jiwa kita untuk lebih intim pada jalur dharma sehingga sang jiwa bisa berevolusi ke arah yang positif dan peningkatan kehidupan yang lebih utama.

Harapan saya, semoga para pembaca yang budiman serta umat se-dharma lebih memahami arti dan makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Agni Hotra. Semoga Hyang Widhi Senantiasa menuntun kita di jalan dharma, serta melimpahkan Wara NugrahaNya kepada kita semua.

Satyam Evam Jayathe,

Om Santih, Santih, Santih, Om

 

---ooo---

[Kembali ke Atas]