Parisada, Generasi Muda, dan Konversi Agama
 
  home

oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa, 12 Oktober 2006

Sehubungan dengan pelaksanaan Mahasabha PHDI yang ke IX yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah dari tgl 14 – 18 Oktober 2006, maka pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan kepada generasi muda Hindu, sesungguhnya apakah yang disebut dengan Parisada itu?

Di dalam Kitab Manawa Dharmasastra Bab XII sloka 110 – 114 dinyatakan sebagai berikut:

Sloka110: “Bahwa Parisada dinyatakan sebagai kekuatan hukum yang sah dan tak seorangpun yang bisa membantahnya”.

Sloka 111: “Tiga orang yang masing-masing mengetahui satu bagian dari tiga pokok isi Weda, seorang ahli lokika, seorang ahli mamansa, seorang ahli nirukta, seorang yang menghafalkan lembaga dharma, ketiganya merupakan Parisada yang sah terdiri atas setidak-tidaknya sepuluh orang anggota”.

Sloka 112: “Seorang yang mengetahui Rg Weda, seorang yang mengetahui, Yayur Weda, dan seorang yang mengetahui Sama Weda, akan dikenal merupakan Majelis yang setidak tidaknya terdiri dari tiga anggota yang memutuskan hukum”.

Sloka 113: “Seorang Brahmana yang ahli dalam Weda harus dianggap mempunyai kekuatan hukum".

Sloka 114: "Walaupun ribuan Brahmana yang memenuhi kewajiban sucinya, yang tidak kenal dengan Weda dan hidup karena warnanya, daging, mereka belum dapat dikatakan Parisada untuk memutus perbedaan dalam dharma itu".

Begitu kira-kira petikannya, jadi Parisada sebenarnya adalah kumpulan Brahmana ahli yang duduk berhimpun memecahkan masalah agama. Parisada dimintai penjelasan dan keputusan tentang penyelesaian masalah–masalah kehidupan beragama.

Kita harus mengangkat kedua tangan dan memberikan aplaus kepada para Brahamana dulu ketika berhimpun dan bermusyawarah pada tahun 1959 di Campuan – Ubub - Bali untuk merumuskan sebuah nama yang diputuskan menggunakan nama PARISAD sebagai lembaga tertinggi agama Hindu.

Kemudian bagaimana lantas perkembangannya? Apakah masih boleh kita menyebut dengan istilah Parisad ketika lembaga ini berkembang ke seluruh penjuru nusantara, yang barangkali pengurusnya belum tentu ahli dalam Weda? Karena dalam sloka 115 disebutkan: “Dosa dari pada mereka yang bodoh menjelma ke dalam kegelapan dan tidak mengenal terhadap dharma, memerintahkan atas kewajibannya, jatuh seratus kali lebih dari pada orang-orang yang ahli akan itu. Apakah berarti berarti ada tantangan dan harapan bagi pengurus yang hukumnya wajib untuk belajar Weda sehingga dalam mengemban dharma dan aktualisasinya tidak menemui kendala dilapangan?

Semestinya kita kembali kepada jalur semula, jika lembaga tertinggi ini masih kita anggap sebagai prabawa berkarisma yang menjadi media di tengah-tengah pembinaan umat Hindu, yang kesuciannya ajeg tidak dikotori oleh muatan politik penguasa seperti terjadi pada masa lalu.

Lantas, bagaimana generasi muda Hindu harus bersikap?

Sebagai ujung tombak Hindu di masa depan, generasi muda Hindu diharapkan agar berusaha semaksimal mungkin peduli akan keberadaan Parisada dengan jalan mengikuti kegiatannya, dan pro aktif dalam usaha ikut pembinaan keagamaan di intern umat atau barangkali ikut bhakti sosial ketika kita melaksanakan kegiatan ekstern, sehingga peran serta bisa dirasakan, ambil azas manfaatnya sehingga ketika menginjak pada masa Grehastem tidak lagi merasa canggung untuk memberikan pelayanan kepada umat karena sudah terbiasa dari mudanya.

Pada masa brahmacari yakni masa menuntut ilmu pengetahuan, maka wajib juga dibarengi dengan mempelajari Weda, sumber dari segala sumber hukum suci dan diresapi dalam hati agar kita menjadi orang –orang yang budiman yang tidak pernah punya rasa benci maupun cinta yang berlebihan. Belajar Weda tidak mesti di pendidikan formal seperti UNHI. Bagi generasi muda Hindu yang sedang belajar di luar Bali, setidaknya ada buku Weda di dalam kamar, begitu dekat dan sebelum belajar ilmu yang lain hendaknya buku Weda dibaca terlebih dahulu paling lama 15 menit setiap harinya, sehingga memang benar bahwa ilmu yang akan didasari oleh ilmu pengetahuan yang bersumber dari Weda.

Kata kunci adalah aktualisasi brahmacari. Hendaknya dia melihat semua wanita sebagai perwujudan ibunya, begitu pula hendaknya dia melihat semua pria sebagai perwujudan ayahnya, maka dengan demikian kita akan dapat lebih mudah berkosentrasi untuk menutut ilmu pengetahuan sampai akhirnnya berhasil dan memperlihatkan prestasi belajar yang mengagungkan kepada orang tuanya sebagai salah satu catur guru bhakti kepada yakni guru rupaka. Keberhasilan ini akan menambah kebanggaan orang tua, sehingga anak siap dilepas ke tengah masyarakat tanpa menjadi sampah masyarakat. Orang tua mengharapkan agar anaknya dapat tumbuh berkembang sebagai generasi muda hindu yang militan yang mampu menjadi contoh dan corong cahaya keluarga.

Kontribusi yang diharapkan dari elite intelektual muda Hindu adalah bagaimana caranya mencari satu format baru agar Parisada menjadi organisasi yang modern yang menerapkan SWOT atau mengadopsi management yang bermutu dalam mengantisipasi persoalan yang dihadapi. Aktualisasi pemaknaan Tri Hita Karana harus dilaksanakan secara murni dan konskuen, bukan saja dalam batas wacana. Keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia sebagai landasan untuk ikut bermusyawarah untuk mencari mufakat.

“Om Hyang Widhi, kami berkumpul di tempat ini, hendak berbicara satu sama lain untuk menyatukan pikiran sebagaimana halnya para Dewa yang selalu bersatu”. Begitulah petikan dalam Rg Veda. Begitu juga hubungan antara manusia dengan alam di sekitar, seharusnya kita menjaga keseimbangan sehingga aksi dan reaksi berbanding lurus. Lebih-lebih pelaksanaan hubungan antara manusia dengan Tuhan / Hyang Widhi,.

“Jalan apapun yang engkau tempuh untuk mendekat padaKu, Aku terima dengan senang hati asalkan berlandaskan keheningan dan kesucian serta ketulusan. Petikan Bhagawadgita ini jangan diplesetkan untuk berpindah agama, bukan begitu makna yang dimaksud, melainkan menjalankan dengan baik dan benar tentang bhakti marga, jnana marga, karma marga dan yoga marga. Keempat jalan itu memang kontras namun sebenarnya sama tujuan yakni menuju kepada penyatuan dengan Brahman.

 

---ooo---

[Kembali ke Atas]