oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com),
22 Maret 2006
Orang sering mengungkapkan orang lain bodoh padahal orang yang
mengatakan itu lebih bodoh. Orang juga sering mengungkapkan orang lain
itu hina padahal orang yang mengatakan itu lebih hina.
Kenapa orang yang mengatakan itu disebut lebih bodoh atau lebih hina?
Ini yang telah membuat saya larut dalam renungan. Sedikitnya ada
beberapa uraian yang bisa menuturkan penjelasan diatas.
Pertama, Orang tersebut menjadi lebih bodoh atau lebih hina karena dia
sudah melupakan kodratnya sebagai manusia. Manusia berkewajiban untuk
berusaha dalam hidupnya, sedangkan segala keputusan hendaknya diserahkan
kepada Tuhan yang menentukan. Jadi wajar dia disebut lebih bodoh atau
lebih hina karena telah melampui wewenang yang dimilikinya.
Kedua, Orang tersebut menjadi lebih bodoh atau lebih hina karena dia
sudah lupa sama kodratnya bahwa manusia adalah sama. Oleh karenanya
sudah sepantasnya orang tersebut menempatkan manusia itu sama untuk
saling mengasihi.
Ketiga, Orang tersebut menjadi lebih bodoh atau lebih hina karena dia
sudah salah dalam membanding-bandingkan manusia. Setiap manusia tidak
berhak membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain karena setiap
manusia memiliki kekurangan dan keunggulan masing-masing.
Keempat, Orang tersebut menjadi lebih bodoh atau lebih hina karena dia
sudah melupakan prinsip persahatan sejati. Dalam persahabatan sejati
sudah tidak mengenal siapa orangnya, darimana asalanya, apa agamanya,
apa warna kulitnya, apa status sosialnya dan sebagainya. Yang dikenal
hanyalah warna darah yang sama.
Kelima, Orang tersebut menjadi lebih bodoh atau lebih hina karena dia
sudah terjebak dalam belenggu pikirannya. Pikiran telah membuat
sekat-sekat untuk membeda-bedakan setiap orang. Sekat-sekat ini harus
dilewati dengan mengunakan bahasa cinta yang ada di dalam hati.
Mengatakan orang lain bodoh atau hina adalah salah satu bagian sifat
buruk yang harus di hentikan sebagaimana ditegaskan dalam Rgveda berikut.
(Rgveda III.16.5)
Ma no agne amataye
maviratayai riradhah
magotayai sahasaputra ma nide
apa vdesamsi-a krdhi
Ya Sang Hyang Agni (Tuhan Yang Maha Esa), semoga engkau tidak menaklukkan kami kepada ketidaktahuan,
kepengecutan,kemiskinan dan penghinaan.
Semoga Engkau menjauhkan lawan-lawan kami.
(Rgveda VII.94.3)
Ma papatvaya no nara
Indra agni ma-abhisastaye
Ma no riradhatam nide
Ya, Sang Hyang Indra dan Sang Hyang Agni yang gagah berani,
jangan jadikan kami pelaku-pelaku perbuatan jahat, pembunuhan dan penghinaan.
Berangkat dari penuturan di atas, sudah selayaknya setiap manusia untuk
tetap mensejajarkan dirinya dengan orang lain dan bersama-sama berusaha,
bersama-sama untuk saling memperbaiki kekurangan, bersama-sama belajar
dari kesalahan masa lalu dan bersama-sama menyerahkan sepenuhnya
keputusan ditangan Tuhan. Tidak lagi saling menghakimi. Semua berjalan
sesuai dengan peran masing-masing. Jika ada suatu kesalahan atau
kejahatan biarkan hukum yang telah disepakati yang bicara, dan sudah ada
orang memiliki peran tersebut untuk melakukan penuntutan terhadap suatu
kesalahan atau kejahatan tersebut. Jadi tidak perlu memutuskan sendiri.
Jika tidak puas dengan keputusan hukum yang dibuat maka serahkan
sepenuhnya keputusan tersebut kepada Yang Di Atas.
---ooo---
[Kembali ke Atas]