oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com),
27 Januari 2006
Jika pengetahuan tanpa dibekali agama, maka pengetahuan tersebut akan
tidak jelas arahnya. Dan bisa-bisa mengancam kehidupan manusia.
Sebaliknya jika agama tanpa didampingi pengetahuan, maka pemahaman
manusia akan agama yang dianutnya akan terbatas, sehingga kesadarannya
pun akan terhambat.
Pengetahuan dan Agama akan selalu hidup berdampingan. Kemana pengetahuan
pergi, Agama pun akan setia menemani. Demikian juga, jika Agama pergi,
maka harus mengajak pengetahuan. Intinya mereka tidak bisa jalan
sendiri-sendiri. Semuanya memiliki keunggulan masing-masing. Keunggulan
pengetahuan dan agama jika disinergikan maka akan sangat bermanfaat
untuk kemajuan peradaban manusia di bumi ini.
Oleh karenanya, setinggi-tingginya orang mencari ilmu pengetahuan mesti
harus didampingi agamanya. Mereka harus tetap dilindungi oleh agamanya
agar tidak terancam atau mengancam kehidupan dunia ini. Contoh yang
paling sederhana jika pengetahuan tidak didampingi agama adalah
munculnya kreativitas manusia yang banyak meresahkan orang lain. Ada
orang jail, berkat kemampuan yang digali dari pengetahuan yang
dipelajarinya, mereka iseng menempelkan photo presiden dengan photo
artis sedang berciuman misalnya. Ini jelas menurunkan martabat presiden.
Contoh lain yang sangat parah adalah baru bisa bikin bom kecil-kecilan
berkat pengetahuan yang dipelajari namun karena dibekali agama yang
sesat maka mereka seenaknya membunuh orang lain. Berkat pengetahuan
hipnotisnya mereka seenaknya menipu orang lain. Dan masih banyak contoh
lainnya.
Setinggi-tingginya orang belajar agama, tetap harus berbekal pengetahuan
yang cukup. Belajar agama, tanpa pengetahuan yang cukup akan menyebabkan
sempitnya pandangan manusia terhadap agama tersebut. Sempitnya pemahaman
orang terhadap agama yang dianutnya bisa berakibat merendahkan orang
lain. Mereka merasa apa yang dianutnya paling benar. Yang lain adalah
salah atau keliru. Bukti nyata dari keadaan ini adalah munculnya
kekacauan di bumi ini yang banyak mengatas-namakan agama. Kekacauan
tersebut tidak lain karena mereka sangat sempit memahami ajarannya. Dan
juga tidak pernah mau mengerti tentang ajaran yang dianut orang lain.
Munculnya perang antar agama, ancaman teroris dimana-mana adalah buah
dari pemahaman agama yang sempit. Sempitnya pemahaman agamanya tiada
lain karena tanpa dibekali pengetahuan Agama yang cukup. Akibatnya
mereka tidak memiliki kecerdasan akal budi, intelektualitas dan
pengetahuan spiritual yang benar. Mereka telah mengacaukan tentang
perbuatan yang baik dan yang buruk.
(Yajurveda XXXIV.2)
Yat prajnasnam uta
ceto dhrtisca
Yajjyotirantar amrtam prajasu,
Yasmanna’rte kincana karma
kriyate
Tanme manah sivasamkalpam astu
Yang menjadi sumber
pengetahuan utama,
dan merupakan kecerdasan dan kekuatan pikiran,
yang
merupakan api yang tak kunjung padam pada mahluk hidup,
apa adanya itu
kita tidak mampu berbuat apa-apa,
semoga pikiran kami selalu mengarah
kepada yang baik.
Kemana pun anda pergi dan dimana pun anda berada, gunakanlah pengetahuan
dan pemahaman tentang agama untuk selalu pada jalan yang benar.
---ooo---
[Kembali ke Atas]