Si Bejo dan Barang Bekas
 
  home

oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com), 22 Agustus 2005

Si Bejo, begitulah tetangganya memanggil. Pekerjaannya khusus memanfaatkan barang bekas. Apapun barang sekitar dilihatnya, pandangannya sangat tajam dan langsung seketika itu muncul ide-ide kreatif untuk memanfaatkan barang tersebut. Dari sekian barang yang dikumpulkannya, kali ini ada satu barang yang dimanfaatkan dan akan sangat berguna bagi banyak orang dan bahkan generasi berikutnya.

Si Bejo bukanlah orang berada. Di rumahnya tergolek sebuah lemari di pojok rumah. Usia lemari tersebut cukup tua. Sejak dia kecil hingga kini Bejo sudah besar, lemari tersebut masih terlihat di rumahnya. Lemari tersebut sepertinya dibiarkan tak terawat oleh ibunya. Maklum ibunya sudah tidak lagi menggunakan lemari tersebut untuk berjualan kebutuhan sehari-hari. Ibunya sudah berhenti membuka warung. Jadinya lemari tersebut berubah fungsi menjadi TPS (tempat pembuangan sementara); Botol- botol bekas tersimpan berderek. Perabot rumah tangga pun juga ikut meramaikannya. Ya memang begitulah kebiasaan orang desa, suka memanfaatkan tempat yang ada, tapi kadang malah tambah sembrawut. Intinya, semakin banyak disediakan tempat, maka semakin ramailah rumah tersebut.

Dibawah kolong ranjang tidurnya, juga tersimpan rapi buku-buku dalam sebuah dus. Buku-buku tersebut bekas waktu dia belajar di bangku sekolah dan juga buku-buku dari saudaranya. Idenya terbangun untuk menjadikan lemari tersebut menjadi sebuah perpustakaan mini. ”Ada buku, ada lemari, kalo digabungkan kan bagus bisa jadi sebuah perputakaan mini. Kalo masih kurang kan masih bisa dibelikan buku anak-anak, buku agama”, begitu celotehnya sendirian setelah termenung menatap lemari yang tak terawat tersebut.

Segera Bejo bergegas ke toko bangunan untuk membeli amplas, kuas dan cat minyak. Hari itu juga dia kerjakan sendiri. Kayu-kayu yang rapuk digantinya dulu, diambil dari sisa-sisa papan dan triplek yang masih tersimpan rapi. Bejo memperbaiki lemari tersebut dalam dua hari. Hari pertama untuk mengganti kayu-kayu yang rapuk dan hari kedua untuk mengamplas biar halus, kemudian baru di cat. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali tersenyum, Ibunya tahu bahwa lemari tersebut pasti bermanfaat kelak. Akhirnya ibunya juga turut membantu mengembalikan perabot rumah tangganya. Semua botol bekas dijualnya.

Hari ketiga, Bejo mulai memilah-milah buku-buku dalam dus tersebut. Sambil dibersihkan dengan kain lap, dilihatnya satu persatu judul buku tersebut. Masing-masing disusun sesuai dengan kelompoknya dan diberi kode tersendiri. Kini buku tersebut sudah tampak mengkilap setelah dibungkus dengan plastik bening. Buku tersebut terpajang rapi sesuai dengan kelompoknya.

Hati Bejo tampak gembira, karyanya sudah rampung. Bejo siap memanggil tetangganya dan juga anak-anak sekitarnya untuk datang kerumahnya.” Coba lihat ke lemari di pojok itu. Tampak baru kan? Gak cuma itu, isinya juga sudah rapi, puluhan buku yang siap untuk dibaca. Silakan baca ya dan kembalikan ke tempatnya yang rapi juga!”, demikian Bejo mengawali omongan dengan rekan tetangga yang diundang ke rumahnya.

Sekarang, dirumah tidak hanya tampak rapi tidak ada barang bekas berserakan, namun juga rumahnya jadi lebih hidup. Setiap hari banyak anak yang bermain ke rumahnya sambil membaca buku cerita. “Sebuah karya kecil yang memiliki nilai tambah besar”: Bejo bicara dalam hati sambil tersenyum dan meneguk secangkir teh di pagi itu.

---ooo---

[Kembali ke Atas]