Lem Tri Guna
 
  home

oleh: Nengah Santa (nengahsanta@yahoo.com), 20 Agustus 2005

Lem perekat itu bermerek Tri Guna. Disebut Tri Guna karena unsur dasarnya terdiri dari 3 unsur utama yaitu: Sattva, Rajas dan Tamas.

Lem Tri Guna ini khusus digunakan merekatkan Purusha (atman) dengan Pradana (badan kasar manusia). Agar kekuatan lem ini baik, maka jangan salah dalam mencampurkan ke tiga unsur tersebut. Takarannya harus seimbang jika ingin menghasilkan lem perekat yang kuat dan tahan lama. Salah kaprah kalau orang mengatakan salah satu unsurnya yang lebih dominan, misalnya unsur Rajas yang ditonjolkan . Ini tidak akan menghasilkan lem perekat yang baik. Tetap harus seimbang sesuai dengan prinsip alam yang berlaku yaitu keseimbangan.

Unsur Sattva adalah intisari dari budhi, amahkara dan manas yang ada dalam tubuh manusia. Buddi menghasilkan kebijakan, intelegensi, akal manusia yang digunakan untuk menimbang baik dan buruk, benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Ahamkara menghasilkan ego manusia. Dan Manas adalah pikiran, pusat pengendalian tingkah laku.

Unsur Rajas berfungsi untuk mengontrol kemampuan tubuh dan mengendalikan gerakan tubuh. Manusia memiliki kemampuan mendengar, merasakan melalui kulit, mencium melalai hidung, melihat melalui mata dan mengecap melalui lidah berkat kendali unsur Rajas. Jika manusia ingin menggerakkan mulut, tangan, kaki, kentut melalui dubur dan berhubungan seks atau kencing dengan alat kelaminnya, semua ini berkat kemampuan unsur rajas yang mengendalikan.

Unsur Tamas berwujud kelambanan, ketidaktangkasan dan kepasifan; unsur ini yang bisa melahirkan sifat fasif, malas, bodoh dan acuh tak acuh atau cuek. Ada sisi positif penggunaan unsur tamas ini, misalnya saat ingin istirahat / tidur.

Manusia dikatakan sehat jika ketiga unsur diatas dalam keadaan seimbang. Agar seimbang perlu peran Sattva untuk mengimbagi unsur Rajas dan Tamas sehingga tidak melampui takarannya. Kalau tidak diimbangi oleh Sattwa, maka unsur rajas dan tamas yang dominan dan menjadi manusia hyperaktif, malas, gelisah, marah, cuek dan sebagainya.

Jika ketiga unsur Tri Guna ini dibiarkan tidak seimbang berarti kekuatan lem perekatnya akan tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya ikatan antara purusha dan pradana akan labil. Saat labil inilah manusia sedang sakit karena ikatan badan kasar dan atman sudah goyah. Makanya manusia sakit kemudian diobati dengan mengembalikan ketiga unsur tersebut agar tetap seimbang dan berfungsi untuk merekatkan badan kasar dan atman dengan baik. Jika terlambat mengobatinya maka lepaslah ikatan atman dan badan kasar; dan akhirnya manusia mati.

Kaitan Tri Guna dalam Bhagawad Gitta seperti dijabarkan dibawah ini:

Bhagawad Gita VII-13

tribhir guna-mayair bhavair
ebhih sarvam idam jagat,
mohitam nabhijanati
mam ebhyah param avyayam

Dikelabui oleh ketiga guna dari prakti ini, kiranya seluruh dunia tidak mengetahui, sesungguhnya Aku ini lebih tinggi dari mereka dan kekal abadi.

Kalau dicermati lebih jauh penjelasan diatas mengandung makna: Ada Manusia dan ada Tuhan. Dijelaskan manusia memiliki tiga sifat yang disebut dengan Tri Guna, sedangkan Tuhan jauh berada diatasnya dan juga kekal abadi.

Jadi selama menjadi manusia dalam hidup ini akan tetap memiliki sifat Tri Guna tersebut. Contoh sederhana: Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan selalu berusaha menyeimbangkan ketiga sifat tersebut. Mulai dari tidur, yang dominan disini adalah sifat Tamas. Kemudian bergegas bangun pagi yang digerakkan oleh sifat Rajas untuk keperluan buang air dan mandi. Habis mandi dilanjutkan dengan sarapan,yang masih dikendalikan oleh sifat Rajas untuk mengunyah makanan dan merasakan. Selesai sarapan, bergegaslah berangkat kerja bagi yang kerja atau pergi ke sekolah bagi yang sedang sekolah. Ketika anda berangkat kerja atau ke sekolah anda tetap dominan digerakkan oleh sifat Rajas untuk berjalan kaki atau mengendari mobil/motor. Jika anda sebagai pekerja, setelah sampai di tempat kerja mulailah sifat Sattva yang berkembang untuk bisa memusatkan pikiran dan memilah-milah pekerjaannya. Jika mereka disekolah, juga harus dominan menggunakan Sattva agar bisa konsentrasi untuk menangkap apa yang diajarkan. Setelah pulang kerja atau sekolah, manusia pasti merasakan lelah dan sudah tentu pada malam harinya perlu istirahat atau tidur. Kembali lagi disini yang bekerja sifat Tamas yang dominan.

Begitu siklus ini bekerja secara berkesinambungan dan selalu berusaha menjaga keseimbangan dari ketiga sifat dalam Tri Guna tersebut. Jadi siapapun orangnya selama masih berstatus sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari ikatan Tri Guna tersebut untuk digunakan menjalankan aktivitas sehari-harinya dan selalu melihat makna dari Tri Guna dari sisi positifnya yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Janganlah Tri Guna hanya diterjemahkan sebatas : Kebaikan, nafsu dan kebodohan. Galilah jauh ke dalam dan selalu berusaha menemukan sisi positif dibalik itu.

 

---ooo---

[Kembali ke Atas]