Sebuah Catatan
TAWUR KESANGA DAN PERAYAAN NYEPI

Setelah dilaksanakan upacara Melasti pada Minggu 18 Maret 2012, rangkaian perayaan Nyepi Caka 1934 dilanjutkan dengan Tawur kesanga yang jatuh pada hari Kamis 22 Maret 2012. Melasti memang dimajukan, tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Ini dikarenakan pada saat tawur kesanga/ pengerupukan akan diadakan pawai ogoh-ogoh yang dipastikan akan menyita waktu lebih banyak.
Rangkaian acara disampaikan oleh Jero Mangku Putu Satriayasa. Semestinya disampaikan oleh seksi acara dari kepanitiaan. Semuanya tergantung dari jumlah umat yang hadir nantinya. Rangkaian acara dimulai dengan tawur kesanga/ mecaru pada pukul 3 sore. Kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama pengerupukan. Kurangnya koordinasi diantara panitia juga menyebabkan tidak teraturnya para wartawan ataupun juru photo untuk berlomba-lomba mengabadikan momen-momen yang menarik. Antara umat yang bersembahyang dengan juru photo seakan berlomba, tentu hal ini sebenarnya sangat mengganggu kenyamanan umat sembahyang. Untuk kedepannya diharapkan ada tokoh-tokoh umat yang ringan tangan untuk memberikan masukan kepada orang luar yang memasuki areal pura,termasuk cara berpakain, misalnya minimal menggunakan senteng dan tidak bercelana pendek.
Pada pukul 5 sore acara pawai ogoh-ogoh dimulai dari pelataran parkir pura agung kemudian berjalan menuju arah ke Nagoya sejauh kurang lebih 3 Km menuju Taman Kota. Lalu lintas sedikit terganggu karena arak-arakan mengambil separuh badan jalan, namun atas bantuan Polisi, kamecetan bisa teratasi. Tentu acara ini adalah acara yang langka bagi setiap orang yang kebetulan melintas dan tentu ingin mengabadikan lewat hp atau kamera bawaannya.
Pukul 8 malam pawai tiba kembali di pelataran parkir Pura Agung atau di depan Restoran Kak Dadut. Setelah Jero mangku ngaturang banten, ogoh-ogoh disulut sebagai symbol memusnahkan sifat-sifat raksasa yang ada pada diri manusia. Ogoh-ogoh yang menyerupai patung raksasa itu direbahkan, dipukuli seakan-akan ajang pelampiasan kemarahan. Dalam sekejap patung yang mulai dibuat beberapa bulan sebelumnya dan dengan biaya dari para donator itu ludes terbakar. Para pengendara yang lewatpun terheran-heran sepintas terlihat seperti ada kendaraan yang terbakar.
Keesokan harinya umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian. Ada yang melaksanakannya di rumah, ada juga yang melaksanakan di Pura sambil berdiskusi agama. Ketika senja hari, untuk mengusir kejenuhan sebagian umat memilih tidur-tiduran di sekitar mandala utama. Tanpa disadari seorang wartawan dari salah satu Koran local datang dan mengabadikannya dan beritanya dimuat keesokan harinya. Tentu hak seorang wartawan untuk menulis berita berdasarkan apa yang dilihatnya. Namun tidak demikian halnya bagi sebagian umat Hindu, dimana pemberitaan tersebut sangat dirasa tendensius. Namun sayangnya tidak ada tokoh umat HIndu yang mencoba meluruskan berita tersebut.
Dari kejadian tersebut di atas barangkali perlu dicarikan solusi agar tidak setiap orang apalagi orang ‘luar’ boleh sembarangan masuk ke mandala utama. Pura hendaknya dipahami juga oleh orang luar sebagai tempat suci. Setiap ada tamu yang memasuki pura harus seijin pengempon Pura.
Suksme








