
“Tiga Orang Kerauhan”
Kamis 10 Nopember 2011 yaitu bertepatan dengan Purnama sasih Kalima adalah upacara piodalan Pura Agung Amerta Bhuana Batam. Piodalan tahun ini adalah Piodalan yang kedua dimana masih merupakan rangkaian upacara Ngenteg Linggih yang dilaksanakan pada bulan Nopember 2009. Panitia piodalan memutuskan sebagai pemuput karya piodalan tahun ini adalah Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa yang baru saja terpilih kembali menjadi Ketua Dharma Adhyaksa Parisada Pusat untuk yang ketiga kalinya saat Mahasabha di Bali pada bulan Oktober 2011 yang lalu.
Pada hari puncak piodalan di pagi hari dilaksanakan sembahyang bersama untuk mohon kerahayuan dalam melaksanakan piodalan. Kemudian pada pukul 3 sore umat mengikuti upacara pembersihan menuju sumber air terdekat atau biasa disebut ngemejiang. Iring-iringan umat tentu membuat lalu lintas sedikit macet dimana jarak antara lokasi pura dengan beji ditempuh sekitar 10 menit karena jalan yang dilalui menuju danau sebagai sumber air adalah melewati jalan raya. Iring-iringan ini menarik perhatian setiap pengguna jalan yang melintas, tentu prosesi seperti ini sangat jarang terjadi di Batam.
Pukul 5 sore umat sudah kembali dari beji menuju Pura Agung. Sampai di Mandala Utama umat yang mundut Ratu Ayu/ Rangda tiba-tiba kerauhan dan diikuti dua umat lainnya. Kejadian tersebut tentu saja membuat sebagian umat yang berada disekitarnya kebingungang terutama anak-anak yang tidak pernah menyaksikan kerauhan sebelumnya. Jero Mangku dan Tokoh Umat lainnya kemudian mohon kehadapan Ida Betara agar diberikan petunjuk jalan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
Setelah istirahat dan makan malam, pada pukul 7 malam acara kembali dilanjutkan dengan menyuguhkan sesolahan/ tari-tarian seperti tari Rejang Dewa yang dibawakan oleh siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti. Tari Baris Gede dibawakan oleh 12 orang Bapak-bapak yang sebagian besar belum punya pengalaman nari. Seumur-umur baru kali ini saya nari bali, kata salah seorang diantaranya. Tarian ini mendapat sambutan yang meriah dari umat yang menyaksikan. Ini berkat gemblengan rutin sang pelatih Ibu Agung Adi. Tarian selanjutnya adalah sesolahan Ratu Ayu, Ratu Gede dan Topeng Tua. Topeng Tua dibawakan oleh Anak Agung Kaler yang memang memiliki latar belakang penari.
Sembahyang bersama dipimpin oleh Ida Pedanda Sebali Tianyar yang kemudian dilanjutkan dengan acara Dharma Tula. Umat cukup antusias mengikuti siraman rohani yang dibawakan oleh Ida Pedanda yang banyak diselingi dengan humor-humor ringan sehingga suasana tetap segar meski malam sudah larut. Terakhir acara ditutup dengan Ngelungsur bersama dan bersih-bersih di areal Mandala Utama.









