Oleh : I Wayan Catra Yasa

Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia,
Pengertian Catur Warna adalah empat golongan dalam menentukan kekaryaan dalam masyarakat Hindu yang berdasarkan sifat dan bakat kelahiran serta profesi atau keahlian. Kata warna dalam bahasa Sansekerta “Wri” yang berarti memilih lapangan kerja. Memilih lapangan pekerjaan berarti menempatkan diri dalam posisi yang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki.
Tulisan ini memaparkan untuk mengantisipasi penafsiran tentang kasta, bahwa sering diplesetkan bahwa dalam Hindu mengenal istilah Kasta yang mengelompokan umatnya atas tinggi rendahnya dalam kehidupan bermasyarakat sebagai makhluk sosial. Padahal bukan demikian. Sesuai dg ajaran Weda, bahwa Hindu tidak mengenal Kasta melainkan Warna atau disebut CATUR WARNA. Inilah yang hendak diulas dan disampaikan ke hadapan sidang para pembaca yang budiman.
Secara umum kualitas manusia Hindu dapat dilihat dari dua sudut, secara individu dan secara aktifitas sosialnya. Manusia berkualitas adalah manusia yang padat makna, artinya dari segi manusia mampu memberikan makna bagi kehidupannya. Dalam Bhagawadgita disebutkan :
Indriyani parany ahur
Indriyebhyah param manah
Mananas tu para buddhir
Yo buddheh paratas tu sah. ( BG. III.42)
Artinya :
Indriya katanya besar, tetapi yang lebih besar adalah manas (pikiran), dan lebih besar dari manas adalah budhi, dan lebih besar dari budhi adalah Dia (atman).
Petikan sloka di atas menggambarkan dan menguraikan proses manusia menuju pada dirinya yang sejati sebagai manusia yang berkualitas. Secara etika bahwa manusia harus mencapai kesadarannya melalui pengendalian indriyanya terlebih dahulu, sebagai sesuatu yang amat sulit, kemudian mengontrol pikirannya dan selanjutnya menyadarkan jiwanya untuk bersatu dengan atma yang langgeng yaitu DIA ( Hyang Widhi ).
Maka demikian Catur Warna adalah ajaran yang adi luhung sebagai landasan penggolongan masyarakat/umat dalam karya masing-masing yang dipilihnya merupakan suatu cara dan langkah nyata dalam pembentukan manusia Hindu yang berkualitas. Catur Warna akan menghasilkan etos dan kualitas kerja dalam profesinya masing-masing, sehingga dalam memfungsikan knowledge, attitude dan skill yang dimiliki akan tepat sasaran dan bermakna dan memberikan gairah kerja.
Pengelompokan lapangan kerja dalam hal profesionalisasi dan fungsionalisasi kerja menurut ajaran Hindu tergantung pada tipe atau motif dari alam manusia dan dari bakat kelahirannya.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra dinyatakan sbb.:
Brahmano, Ksatriyo waisyas
Trayo warna dwijatayah
Caturtha ekajatisthu suck
Nasti to pancamah
Artinya : Brahmana, Ksatrya dan Waisya, Ketiga golongan ini adalah dwijati. Sedang Sudra yang ke empat adalah ekajati. Tidak ada golongan yang kelima.
Manusia dari masing-masing golongan dalam kerjanya, setia kepada kewajibannya sendiri akan menenuai hasil karmanya dan dengan tidak disangsikan lagi akan mencapai kesempurnaan kedamaian yang abadi.
Catur Warna membagi masyarakat Hindu sesuai dengan lapangan pekerjaannya secara parallel horizontal yakni kesejajaran harkat dan martabat, bukan vertikal atau kedudukan manusia kerena tinggi rendahnya martabat manusia itu sendiri.
Melaksanakan kerja atau kewajiban untuk mencapai kesempurnaan jiwa tidak ditentukan oleh keturunan, juga tidak dengan upacara penyucian atau dwijati akan tetapi pekerjaan yang menjadi kewajibannyalah sebagai penentunya.
Na vonir napi samkara
Na srutam na ca santatih
Karanani dwatwasya
Wrttam evatu karanam
(M. BH. XII. CCCXIII.108)
Tidak kelahiran, tidak karena pentasbihanpun, tidak karena mempelajari Weda, tidak juga karena keturunan menyebabkan orang menjadi dwijati. Hanya perbuatanlah yang menyebabkan.
Apa tugas dan kewajiban Brahmana?
Istilah Brahmana sebagai tempat ilmu pengetahuan serta menumbuhkan daya cipta rohani pada manusia, maksudnya adalah mereka yang menjadikan dirinya sebagai tempat pengetahuan suci Weda dengan menumbuhkan secara subur dalam pribadinya tidak hanya memahami tetapi melaksanakan pengetahuan kerohanian dalam masyarakat, ia disebut PENDETA, yakni gelar untuk pemimpin agama yang menuntun umat Hindu dalam mencapai ketenangan hidup serta memimpin umat dalam melaksanakan upacara agamanya.
Apa tugas dan kewajiban Ksatria?
Kitab Manawadharmasastra 1. 89 menyatakan :
Prajanam raksanam danam
Ijyadhyayanamewa ca
Wisayeswaprasaktatisca
Ksatryasya samasatah
Para Ksatria ia perintahkan untuk melindungi rakyat, memberikan hadiah-hadiah, melakukan upacara kurban, mempelajari Weda dan mengekang diri dari ikatan-ikatan pemusatan nafsu.
Golongan ksatria adalah sebagai pemimpin yang mengayomi rakyat serta menjaga negara dari kekacauan dengan menegakan kebenaran. Di samping itu juga disebutkan dalam BG XVIII.43 bahwa golongan ksatria adalah berjiwa kepahlawanan, keteguhan, ketetapan hati, meskipun dalam peperangan, kemurahan hati dan kepemimpinan. Inilah tugas dan kewajiban ksatria yang lahir dari alamnya.
Apa tugas dan kewajiban warna Waisya?
Warna Waisya adalah golongan yang bertindak sebagai pengusaha yang menyangkut bidang produksi, sandang dan pangan untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tugas Waisya adalah untuk penyelenggara mengedarkan barang kebutuhan.
Orang Waisya juga disebutkan dalam Slokantara 38 yang menyatakan bahwa harus bekerja sebagai petani, mengembala, pengumpul hasil tanah, bekerja dalam lapangan perdagangan dan mempunyai hotel-hotel dan rumah penginapan.
Apa tugas dan Kewajiban Warna Sudra?
Sudra adalah golongan yang keempat dalam Catur Warna yang merupakan kelompok pekerja yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi pelayan, pesuruh atau pembantu orang lain, dengan kata lain dengan bermodal tenaganya.
Dalam kitab Manawadharmasastra I.91 dinyatakan :
Hanya satu tangan Tuhan tentukan untuk para Sudra yaitu memberikan pelayanan dengan setia dan berbhakti kepda ketiga golongan tersebut di atas. Warna Sudra adalah menggantungkan hidupnya dari hasil menjual tenaganya, namun ia masih ciptaan Tuhan yang mulia dan utama.
Dalam Bhagawata Purana VIII.XI.24 dinyatakan :
Kerendahan hati, kesucian, bhakti kepada atasan dengan tulus iklas beryadnya tanpa mantra, tidak mempunyai kecendrungan mencuri, jujur dan menjaga milik para Brahmana. Inilah ciri-ciri yang dimiliki oleh golongan Sudra.
Demikianlah dapat disampaikan secara umum, namun perlu dipahami bahwa harkat dan martabat sebagai manusia tetap sama dan sejajar dengan manusia dalam golongan-golongan yang lain, karena pada hakekatnya kerja apapun jika sudah merupakan kewajiban yang dilakukan adalah MULIA di hadapan Hyang Widhi/Tuhan yang Maha Kuasa.
Om Santih, Santih, Santih, Om
Batam, 05 Agustus 2011.
I Wayan Catra Yasa, tinggal di Batam. Salah satu jabatannya sampai saat ini adalah Sekretaris Umum Forum Kerukunan Umat Beragama di Batam. Aktivitas sehari-hari adalah sebagai Direktur sebuah Perusahaan yang bermitra dengan Penanaman Modal Asing yang berinvestasi di Batam, Kepulauan Riau.









