Oleh : Drs. I Wayan Catra Yasa
Om Swastyastu,
PINTU DEPAN
‘’ Karmany Evadhikaras te ma Phalasu Kadacena’’.
Lakukanlah tugas/Kerja itu sebagai Kewajibanmu
Adigium di atas merupakan kekayaan Hindu yang adiluhung nafas dan karakter yang dimiliki oleh kebanyakan para GURU untuk mencapai kesejahteraan lahir dan bathin moksartham jagaditha ya ca iti dharma.
Kemudian bagaimana bisa mengimplementasikan dalam kenyataan hidup ini?
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, coba simak gejolak / fenomena sosial yang terjadi belakangan ini, yaitu :
- Cuaca ekstrim, pemimpin saling menyerang, manusia berkelahi sampai merusak tempat ibadah.
- Di Jakarta, sudah mulai ada yang menggunakan agama sebagai senjata menyerang orang, bahkan menggunakan kata bohong sebagai peluru penghancur.
- Di Amerika Serikat, Barack Obama diserang habis dengan isu-isu rasialis secara sarkastis.
- Di Italia, Perdana Menteri Silvio Beluschoni dilempar patung mukanya hingga berdarah.
Kita sebagai umat Hindu di Batam yg kebanyakan berasal dari Bali pernah diajarkan oleh tetua, kapan saja kegelapan demikian menakutkan, maka cepat-cepatlah mencari Sundih (lentera penerang). Dan salah satu lentera penerang di segala jaman bernama GURU.
Bisa terkait secara implisit dari Catur Kang sinengguh Guru, penulis menjabarkan bahwa manusia memerlukan empat jenis Guru :
- Guru Buku Suci
Buku suci secara umum bisa dipahami secara terbatas, bahkan sudah dipolitisir secara amat berlebihan. Misalnya Buku Bhagawad Gita ; di tangan pemula bisa berbahaya, karena bisa diplesetkan kesimpulannya menjadi semua manusia harus turun berperang. Atau bahkan kitab Tantra kadang diplesetkan menjadi belajar magic, ngeleak (santet). Padahal dialog Shri Krishna dan Arjuna otentik yaitu terjadi sesuai tuntutan unik saat itu, tidak bisa ditiru serampangan di waktu lain. Pertama, perang ketika itu tidak bisa dihindarkan. Kedua, Arjuna adalah seorang Ksatria. Ketiga, Krishna adalah Guru hidup dg cahaya menawan membantu Arjuna. Sedangkan di saat ini peperangan masih bisa dihindarkan karena semakin majunya peradaban. Tidak semua manusia lahir sbg ksatria untuk berperang. Di jaman kali yuga sangat sulit menemukan guru hidup sekaliber Shri Krishna, sekaligus murid dengan kualitas bhakti seperti Arjuna.
- Guru Hidup
Buku suci sangat komplek, maka kita membutuhkan Guru Hidup. Di tangan guru hidup buku suci dibahas sesuai tingkat pertumbuhan murid. Terkait langsung dengan Tri Kang sinengguh Guru yakni Guru Rupaka, Guru pengajian dan Guru Wisesa. Sosok figur seseorang GURU memenuhi syarat-syarat seperti, di bawah ini :
Pertama, Guru hidup kesehariannya menenangkan, mendamaikan. Terutama karena hasil langsung praktek spiritual mendalam adalah ketenangan, kedamaian, dan kemudian diikuti niat mulya untuk berbagi.
Kedua, Kualitas ketenangan dan kedamaian ini menjadi magnet besar bagi banyak orang untuk belajar kebajikan.
Ketiga, Sifat ajarannya amat memperkaya intelek sekaligus bhatin.
Keempat, Bila mesti menudukan orang lain, guru hidup menundukannya dengan kasih sayang. Dalam hal berdoa, tidak pernah meminta. Sebaliknya Guru Hidup berdoa untuk keselamatan, kedamaian, kebebasan semuanya tanpa membeda-bedakan.
- Guru Simbolik
Karena Guru hidup mengenakan tubuh manusia, yang penuh dengan ketidaksempurnaan, ia rawan salah mengerti. Untuk itu manusia memerlukan guru simbolik. Coba kita perhatikan burung yang tidak mengenal sekolah, tidak melamar pekerjaan, setiap pagi mereka bernyanyi. Pesannya sederhana yaitu pertahankan bathin yang penuh suka cita, di sana tersembunyi rahasia. Di Tibet pernah terjadi seekor kuda yang lagi hamil tua ditusuk perutnya oleh seorang perampok. Begitu bayi kudanya keluar, ibunya menjilati anaknya sampai kering. Setelah yakin anaknya sehat dan selamat, kemudian induk kuda ini mati penuh kedamaian. Inspirasi yang tersisa dari sini adalah, seekor binatang bahkan ketika perutnya sudah luka lebar oleh sayatan pisau, masih ingat untuk melaksanakan tugas terpenting kehidupan berupa kasih sayang.
- Guru Rahasia
Namanya rahasia, memang sesungguhnya rahasia, tetapi ada bahan renungan yang perlu diendapkan. Kapan saja cahaya di luar, berjumpa dengan cahaya di dalam, di sana seseorang boleh berguru pada guru rahasia. Jangan terkejut kemudian bila bisa melihat melihat huruf-huruf suci di dalam sini. Kehadiran Hyang Widhi dimediasi oleh jiwa sebagai manager, dan pikiran pekerja serta tubuh manusia sebagai fasilitas berstana dalam relung hati nurani. Guru Rahasia hadir seperti tempayan yang berisi air bening suci, maka bayangan sinar rembulan akan nampak cerah.
Gabungan dari ke empat guru inilah kemudian mungkin membawa seseorang keluar dari terowongan panjang kegelapan yang hanya berisi penderitaan. Bisa kita sebut keempat Guru ini sebagai GURU PARAMA SANTIH.
Perhatikan cahaya-cahaya yang memancar dari langit. Matahari bersinar sama terangnya di negara beragama sekaligus di negara atheis. Bulan bercahaya sama terangnya ke binatang sekaligus tetumbuhan. Bintang sama saja cahayanya ke gunung maupun ke sungai. Makhluk tercerahkan juga serupa, ia melayani dan menyayangi semua tanpa membeda-bedakan.
Semua nilai-nilai kemanusiaan adalah pantulan kasih, kasih sebagai pikiran adalah kebenaran, kasih sebagai tindakan adalah dharma, kasih sebagai pengertian adalah kedamaian dan kasih sebagai perasaan adalah tanpa kekerasan.
PINTU BELAKANG.
Pintu belakang menjelaskan pintu depan. “ Dalam Bhagawad Gita III.30 :
Karmany evadhikaras te ma phalasu kadacana, ma karma phala hetur bhurma te sango stwa akarmani.
Pekerjaan yang secara rutin dilakukan melaui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari sangat utamaning utama, bila mampu kita melakukan dengan sebaik baiknya seraya segala pekerjaan itu menjadi persembahan hanya tertuju kepada Hyang Widhi. Pada saat bekerja, kita wajib memusatkan pikiran mempersembahkan pekerjaan itu pada-Nya, sedikitpun tidak ada rasa pamerih dan keakuan, serta bangkitlah maka akan terbebas dari penderitaan.
Om Santih, Santih, Santih, Om
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$
SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN SEMOGA HYANG WIDHI TETAP MENCERAHKAN MELIMPAHKAN WARA NUGRAHANYA KEPADA KITA SEMUA.
Dalam keteduhan hati, ada ketulusan budhi
Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan hati
Dalam kerapuhan raga, ada ketegaran jiwa
Dharmawacana ini disampaikan pada Persembahyangan Hari Kuningan di Pura Agung Amerta Bhuana, Batam, tanggal 16 Juli 2011.









