Hindu Batam

Link

Sponsor

sekaa gong kumara jaya..siap menerima orderan pentas+penari bali

Mau pasang banner di HinduBatam? Hub Pengasuh [ Klik Disini ]

BERYADNYA DALAM KONTEKS CATUR ASRAMA

E-mail Print PDF

 

Pada kesempatan yang baik ini saya akan mencoba menyampaikan sebuah paparan yang topiknya “ Ber- Y A D N Y A Dalam Konteks Catur Asrama ” Ketertarikan saya untuk mengangkat topik ini tiada lain berangkat dari sebuah renungan  yang menghasilkan sebuah kekaguman atas keadiluhungan dalam pelaksnaan sehari-hari di setiap sendi kehidupan dalam beragama .

Hadirin umat sedharma terkasih yang saya banggakan, Secara umum yadnya diartikan sebagai pengorbanan yang dilakukan secara tulus dan lascarya. Apapun bentuk pengorbanan itu , itulah yadnya. Jadi pengertian dari yadnya begitu luas.

Pemahaman yang berkembang selama ini tetang yadnya adalah untuk menyatakan berbagai ritual , misalnya bila ada yang melaksanakan upacara perkawinan , dikatakan sedang me –yadnya, bila ada yang melaksanakan piodalan dikatakan juga sedang melaksanakan yadnya.  Pemahaman itu tidak salah dan memang begitu . Hanya perlu digarisbawahi bahwa pemahaman itu mengalami penyempitan makna.

Mengapa dikatakan dipersempit ? Ya, karena makna yadnya itu demikian luas, misalnya  cinta kasih Sang Hyang Widhi dalam menciptakan alam semesta ini dikatakan sebagai yadnya. Seperti disebutkan dalam Yayur Weda mantram XX.III.62 “ Ayam yajno bhuvanasya nabhih yang artinya yadnya adalah pusat terciptanya alam smesta.

Kemudian pada Atharwa Weda yadnya dikatakan sebagai salah satu unsur kekuatan yang menyangga bumi, yakni mantram XX.1.1 : Satyam brhta rtam ugram diksa tapo, brahma yajna prhtivimdharayanti Yang artinya kebenaran, hukum abadi yang agung ,penyucian ,pengendalian diri dan yadnya , inilah yang menyangga bumi ini.

Masih banyak lagi mantram-mantram di dalam catur Weda yang menjelaskan keuniversalan dan keluasan makna yadnya. Sudah saatnya kita menggali semua makna itu disertai dengan harapan secara perlahan-lahan kita coba aplikasikan.

Umat sedharma, yang berbahagia, dharma wacana mengenai ber-yadnya dalam konteks Catur Asrama untuk melaksanakan yadnya dapat dilaksanakan dengan bertahap ,dalam kesempatan ini cukup dua yang dibahas yaitu : tahap BRAHMACARI DAN GRHASTA, karena tahap inilah yang baru sempat dialami oleh sebahagian kita , Diantara umat yang telah memasuki masa sanyasin dan bhiksuka  lah yang lebih pantas untuk membahas bagimana semestinya paraktik nyata yadnya pada masa kini.

Ber- yadnya pada masa Brahmacari

Saudara-saudaraku umat sedharma yang saya banggakan, Beryadnya pada masa Brahmacari, merupakan tahap pertama dalam ajaran Catur Asrama,. Apakah yang dimaksud dengan Masa Brahmacari ???Masa Brahmacari adalah Masa menuntut Ilmu Pengetahuan.  Pada tahap ini yadnya apa yang biasa dilakukan ?Dalam kontek kita sebagai  pelajar contoh yang paling sederhana adalah : Berkorban meluangkan waktu untuk belajar, mengesampingkan ego untuk mendahulukan kepentingan sekolah, melegakan hati apabila dimarahi guru saat kita melakukan kesalahan. Teman-teman dan umat sededharma sekalian, apakah menuntut ilmu atau sekolah kita laksakan sebagai kewajiban atau kebutuhan ?? Hendaklah menutut ilmu dilakukan karena suatu kebutuhan, jika sudah merupakan suatu kebutuhan seperti halnya kita akan merasa lapar jika tidak makan, demikian pula jika tidak sekolah kita akan merasa haus akan ilmu pengetahuan, karena rasa haus akan ilmu pengetahuan merupakan kunci awal sebuah kesuksesan atau keberhasilan, jadi beYadnyalah dalam segala hal termasuk perasaan, jika  dimarahi guru atau orang tua. Guru dan orang tua , jika memarahi pasti demi kebaikan anaknya.Tidak ada orang tua dan guru yang memarahi murid tanpa alasan.

Pada masa Brahmacari, hendaknya kita dapat menggunakan waktu dan tenaga dengan sebaik-baiknya.Seperti halnya masa Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuscaya , sloka 27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik-baiknya, yang diumpamakan seperti rumput ilalang yang masih muda. Bahwa masa muda pikiran kita masaih tajam , hendaknya digunakan untuk menuntut dharma dan ilmu pengetahuan.Dengan tajamnya pikiran seorang anak juga bisa me-yadnya –kan tenaga dan pikiran kita.

Umat sedharma yang terkasih, terutama  teman yang masih sekolah , kita hendaknya secara tulus menggunakan waktu dan tenaga untuk belajar sambil membantu orang tua dan juga orang lain. Secara tulus melakukan sembahyang ; di rumah , di pura, di pasraman. Secara  tulus juga turut memelihara kebersihan, dan lingkungan sebagai wujud bhuta yadanya. Berbakti dan hormat kepada guru dan melaksanakan ajaran-ajarannya sebagai bentuk pelaksanaan pitra yadnya.

Ber-yadnya pada masa Grhasta

Masa ini dianggap sebagai masa yang paling kompleks. Kompleks permasalahannya ,kompleks tanggung jawabnya , komplek juga kewajibannya.

Mengapa demikian ? Ya. Karena pada masa Grhasta , seseorang sudah harus mengurus orang lain, dalam arti orang selain dirinya sendiri yaitu pasangan hidupnya ( suami / istri ), anaknya. Pada masa ini juga sudah dituntut  untuk bermasyarakat .Jadi tanggung jawabnya sudah multiarah ( vertikal dan horizontal ).

Bagi umat Hindu tanggung jawabnya masa grhasta meliputi kelima yadnya yang dipersyaratkan. Yadnya yang bersifat Vertikal misalnya yadnya kepada Sang Hyang Widhi yang disebut dengan Dewa Yadnya. Sepenuh jiwa kita berpasrah di utama mandala saat kita sembahyang di Pura, dan juga pada saat – saat penyiapan  berbagai sarana upakara seperti selama ini  lakukan oleh ibu dan bapak.

Semua yang telah dipraktikan dalam ber-yadnya itu sudah sesuai dengan ajaran Weda .Bhagawadgita , adyava II, sloka 47 yang isinya ; karmany ewadhikaras te ma phalasu kadacana, ma karma phala hetur bhurma , te sango ‘ stwa akarmani . Yang artinya  . Bahwa hanya berbuat dan berbuat yang menjadi kewajiban kita , bukan hasil dari perbuatan itu. Begitulah seklumit praktik yadnya secara vertikal ( ke atas )pada masa grhasta .

Untuk ber- yadnya bersifat ke bawah misalnya, bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggal dan di manapun kita berada yang mesti turut kita perhatikan dan ikut serta bertanggung jawab didalamnya.

Sedangkan ber-yadnya yang bersifat horizontal ( ke samping ) , diwujudkan kepada orang-orang terkasih di sekitar kita , yakni anak. Sebagai orang tua memberikan perhatian dan pengorbanan secara penuh dan ketulusan, dan tidak pernah berharap suatu balasan terhadap perbuatan orang tua terhadap anaknya. Orang tua hanya berharap agar anaknya tumbuh dengan baik , berkembang menjadi anak yang suputra.

Menurut Nitisastra , suputra itu sangat utama. Penjelasan Nitisastra tentang suputra adalah sebagai berikut :

- Orang yang mampu membuat seratus sumur masih kalah keutamaannya dibandingkan orang yang mampu membuat satu waduk.

- Orang yang mampu membuat seratus waduk kalah ke utamaannya dibandingkan dengan orang yang mampu membuat satu yadnya secara lascarya.

- Dan orang yang mampu membuat seratus yadnya masih kalah keutamaannya dengan orang yang mampu melahirkan sorang anak yang suputra. Demikian keutamaan seorang anak yang suputra.

Orang tua kita sungguh berat tanggung jawab untuk anak-anaknya ,agar anak-anaknya berjalan di jalan Dharma , tetap memelihara pura didalam hatinya, karena pura yang sesungguhnya adalah yang ada di dalam hati.Dan yang tidak kalah berat tanggung jawab orang tua adalah agar jangan anak- anaknya membangun tempat ibadah jenis lain di dalam hatinya.

Bapak , Ibu dan umat sedharma yang saya banggakan, sesungguhnya masih banyak hal yang ingin saya sampaikan pada forum ini akan tetapi mengingat terbatasnya waktu yang diberikan maka dharmawacana pada kesempatan ini saya akhiri dengan menghaturkan cakuping kara kalih, dan tidak lupa mohon maaf atas segala kekurangan yang ada pada diri saya.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Naskah ini disampaikan dalam persembahyangan Tilem sasih Kawulu tgl.02 Feb.2011 yang dibawakan oleh Ni Putu Dewi Ariani, siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti Batam, Kelas 3 SLTA

 


AddThis
Last Updated ( Friday, 04 February 2011 14:55 )  

Copyright © 2010 Hindu Batam