Tersebutlah dua orang bersahabat bernama Dharmabudhi dan Dustabudhi. Dharmabudhi adalah orang yang sangat baik, Dia selalu mencari penghidupan dengan jalan yang jujur. Sebaliknya Dustabudhi adalah orang yang jahat, dia selalu berjudi dan menghambur-hamburkan uang dan akhirnya dia menjadi miskin. Suatu hari Dustabudhi datang kerumah Dharmabudhi dan berkata “Kawanku kota ini sudah tidak baik lagi untuk tempat kita hidup, Kita berdua menjadi orang miskin. Mari kita pergi dari sini dan pergi ke negri lain mencari Keberuntungan”. Dharmabudhi setuju mereka berdua lalu mengembara. Setelah merantau beberapa tahun, melewati beberapa kota, mereka belum juga mendapatkan keberuntungan.
Suatu hari mereka melewati sebuah hutan. Dharmabudhi kebetulan menjumpai sebuah peti emas berisi seribu mata uang emas. Peti itu mungkin disembunyikan oleh seseorang disana. Mereka menari-nari karena gembiranya. “Mari kita pulang”, kata Dharmabudhi. Kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita sudah kaya. Untuk apa kita mengembara lagi”. Dustabudhi setuju dan mereka lalu pulang. Setelah dekat dari rumah mereka, maka Dharmabudhi lalu berkata: “mari kita bagi emas itu, sebagian untuk kamu dan sebagian lagi untuk saya. Dengan uang ini kita akan sanggup membantu orang-orang miskin”. Tetapi Dustabudhi punya rencana lain,katanya: “Sahabatku adalah tidak baik untukmu, memperlihatkan uang emas itu kepada orang lain. Mereka Semuanya akan ingin meminjamnya atau mungkin mencurinya. Kamu akan bisa miskin lagi seperti semula. Mari masing-masing mengambil seratus uang emas saja dan sisanya kita tanam di dalam hutan. Kita baru ambil lagi kalau kita memerlukan”. Dustabudhi memang licik ia berharap mendapat lebih dari bagiannya jika usul itu di setujui. Dharmabudhi seorang yang baik ia tidak menyangka temannya mempunyai keinginan yang tidak baik.karena itu ia menyetujui usul Dustabudhi. Mereka menanam peti emas itu di bawah pohon beringin di tengah hutan. Dengan cepat Dustabudhi telah menghabiskan seratus mata uang Emasnya. Segera saja ia mengambil uang emas itu ke dalam hutan tanpa memberi tahu temannya. Diam-diam pada waktu malam hari ia menggali peti itu dan mengambil Semua uang emas yang ada didalamnya. Setelah peti itu dimasukan ke-tempatnya semula. Sebulan kemudian Dustabudhi menemui Darmabudhi. “Saya perlu uang lagi, mari kita bersama-sama pergi ke hutan dan mengambil bagian kita masing-masing”, kata Dustabudhi. Setelah mereka sampai dihutan mereka lalu menggali tanah ditempat peti itu di tanam. Tetapi tidak ada emasnya lagi didalamnya. Dustabudhi menuduh Dharmabudhi. “Kemana hilangnya emas itu,tentu kamu yang mencurinya Dharmabudhi? Berikanlah aku sebagian. Jika kamu tidak berikan saya akan ajukan kamu ke pengadilan”. “Apa yang kamu katakan? Saya sungguh-sungguh tidak tahu tentang hilangnya uang itu. Saya bukan pencuri seperti Kamu”, jawab Dharmabudhi. Mereka saling tuduh menuduh. Setelah lama bertengkar akhirnya disepakati untuk minta keputusan pengadilan. Hakim tidak tahu cara memutuskan. Masing-masing diminta mengajukan saksi. Dharmabudhi mengatakan bahwa dia tidak punya saksi, sebaliknya Dustabudhi mengatakan bahwa saksinya adalah dewi hutan. “Mari kita tanyakan dia, dia akan mengatakan dengan sejujurnya siapa yang mencuri uang emas itu”, kata Dustabudhi. Hakim lalu berkata: “Itu gagasan yang bagus, kita akan tanyakan dewi hutan, Beliau akan menceritakan yang sebenarnya, kita akan datang besok ke dalam hutan”. Dustabudhi segera menyusun siasat ia segera pulang minta bantuan kepada ayahnya. “Ayah semua uang itu ada di tangan saya yang saya perlukan adalah sebuah kalimat dari ayah, malam ini ayah harus pergi ke hutan itu dan bersembunyi di dalam lubang pohon bringin karena peti uang emas itu ditanam di dekat pohon bringin itu, besok pagi ayah harus menjawab pertanyaan dari hakim”. Ayahnya berkata : “Oh anakku, itu adalah rencana yang tidak baik kita berdua akan celaka, ubahlah pikiran mu yang salah itu”. Dustabudhi tidak memperdulikan kata-kata ayahnya ia memaksa Ayahnya, kemudian di masukan kedalam pohon beringin itu. Keesokan harinya Dustabudhi dan Dharmabudhi bersama hakim pergi kehutan. Sampai di hutan Dustabudhi berseru dengan suara keras: “Oh Dewi Hutan beritahukanlah kami siapa diantara kami adalah pencuri? Katakanlah dengan sebenarnya”. Jawab ayah Dustabudhi dari dalam goa: “Dharmabudhi yang mencuri emas itu”. Hakim sangat terkejut dan yakin bahwa benar-benar dewi hutan telah menjawab pertanaan itu, lalu dia bertanya kepada Dharmabudhi: “Sekarang Katakanlah, Dharmabudhi tidak menjawab karena dia merasa tidak pernah mencuri. Ia mengetahui bahwa seseorang telah bersembunyi di lubang pohon kayu itu. “Bapak hakim, dewi tidak pernah berbohong, benar saya telah mencuri uang emas itu tetapi saya sembunyikan didalam lubang pohon beringin itu. Ketika saya lakukan hal itu saya melihat seekor ular hitam yang besar didalam lubang pohon itu, karena itu saya tidak berani mengambilnya. Sekarang jika Bapak hakim mengijinkan saya menyalakan api dan mengusir ular itu keluar. Kita akan mendapatkan kembali uang emas itu”. Hakim setuju dengan usul itu Api segera membakar batang pohon beringin itu. Ayah Dustabudhi lalu tidak tahan merasakan panas api yang keras, sebagian badannya mulai terbakar Ia lalu melompat dari lubang kayu itu dengan badan yang merah membengkak karena terbakar. Hakim menjadi sangat heran, “Apa arti dari semua ini”. Ayah Dustabudhi mengaku terus terang bahwa semuanya ini adalah akal busuk dari Dustabudhi. Akhirnya hakim memutuskan bahwa semua uang emas itu harus diserahkan kepada Dharmabudhi, dan Dustabudhi dimasukan kedalam penjara kerena kejahatannya. Kesimpulan: Kebenaran akhirnya akan menang dan sebaliknya kejahatan yangAkan kalah. diposting oleh I Gede Bagus Weda Angga - Siswa Pasraman Jnana Sila Bhakti
Hukuman apa yang harus aku berikan padamu”.
Maka Dharmabudhi lalu membuat api yang besar dan dimasukan kedalam lubang itu. Dustabudhi tidak bisa berbuat Apa-apa. Didalam hatinya dia mulai ketakutan.





