|
Ada 4 (empat) jalan (Marga) menuju kepada Tuhan (Hyang
Widhi) yaitu :
Bhakti artinya cinta kasih. Kata bhakti digunakan untuk
menunjukkan cinta kasih kepada subyek yang lebih tinggi statusnya, atau lebih
luas lingkupnya misalnya : orang tua, negara, bangsa, Tuhan (Hyang Widhi). Kata
cinta kasih digunakan untuk sesama misalnya tunangan, istri/suami, umat
sedharma, umat manusia. Orang yang ber-bhakti kepada Hyang Widhi disebut
Bhakta. Dari caranya mewujudkan, bhakti dibagi dua yaitu PARA BHAKTI dan
APARA BHAKTI. Para artinya utama; jadi para bhakti artinya cara berbhakti kepada
Hyang Widhi yang utama, sedangkan apara bhakti artinya tidak utama; jadi apara
bhakti artinya cara berbhakti kepada Hyang Widhi yang tidak utama. Apara bhakti
dilaksanakan oleh bhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran rohaninya
kurang atau sedang-sedang saja. Para bhakti dilaksanakabhakta yang tingkat inteligensi dan kesadaran
rohaninya tinggi.
Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara bhakti antara lain
banyak terlibat dalam ritual (upacara Panca Yadnya) serta menggunakan berbagai
simbol (niyasa).
Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para bhakti antara lain
sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan
kuat/berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat
mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik dimana Kayika (perbuatan), Wacika
(ucapan) dan Manacika (pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma.
Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwya Yadnya (ber-dana punia), Jnana
Yadnya (belajar-mengajar), dan Tapa Yadnya (pengendalian diri). Pilihan menggunakan
para atau apara bhakti tergantung dari tingkat inteligensi dan kesadaran rohani
masing-masing. Yang ditemukan di masyarakat Hindu Indonesia dewasa ini adalah
mix para dan apara bhakti, namun bobotnya berbeda.
Umat Hindu di Bali banyak
menggunakan apara bhakti, sedangkan umat Hindu diluar Bali banyak
menggunakan para bhakti. Kenapa demikian ? Apakah itu berarti umat Hindu di
Bali inteligensi dan kesadaran rohaninya kurang ? Tidak selalu demikian. Ada
umat Hindu di Bali yang inteligensi dan kesadaran rohaninya tinggi tetapi
dibelenggu oleh tradisi beragama yang monoton dan feodalistis, sehingga
menampakkan diri sebagai apara bhakti. Sebaliknya umat Hindu diluar Bali lebih
moderat, demokrat, rasional dan reformis, sehingga memudahkan mereka mencapai para
bhakti. Mengupayakan umat Hindu di Bali menjadi sebagian besar para bhakta
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena bottle-neck yang menghadang
ya itu tadi : tradisi beragama dan feodalisme. Itulah sedikit ulasan kasus
tentang para dan apara bhakti.
|