Peresmian Pasraman Brahma Widya Satwika di Pulau Bintan 
 
  home

Seiring bergulirnya waktu keberadaan umat Hindu di pulau Bintan, mengalami pasang surut dalam jumlah pertumbuhan. Walaupun demikian tingkat pertumbuhan anak-anak yang telah menginjak usia sekolah semakin hari semakin bertambah. Hal inilah yang menjadi perhatian serius PHDI Kabupaten Bintan dalam menyikapi terhadap pertumbuhan anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan agama Hindu. Mengingat di beberapa sekolah di pulau Bintan belum tersedia tenaga pengajar agama Hindu. Disaat inilah sebagai bentuk dan rasa tanggung jawab PHDI Kabupaten Bintan dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan agama Hindu khususnya untuk anak-anak usia sekolah, maka pada hari Minggu pahing, tanggal 26 Nopember 2006 diresmikanlah berdirinya “PASRAMAN BRAHMA WIDYA SATWIKA” oleh Drs. I Wayan Catrayasa selaku ketua parisada hindu dharma indonesia provinsi Kepulauan Riau.

Dalam kesempatan itu ketua PHDI provinsi Kepri berharap, peresmian pasraman ini hendaknya dijadikan momen bersejarah perkembangan umat Hindu kabupaten Bintan. Pada tahap awal perjalanan pasraman ini akan mengalami pasang dan surut, namun dibutuhkan konsistensi sikap para pengurus agar cita- cita yang sangat luhur dan mulia untuk menjadikan kita dan generasi penerus dapat memahami ajaran hindu dengan benar. Karena pemahaman ajaran agama merupakan pondasi segala pendidikan. Dan untuk mengendalikan globalisasi, agama mesti lebih banyak berperan, karena agama merupakan filter pengendali dari segala perubahan yang begitu cepat dan tak terkendali.

Salah satu karya luhur dalam nuansa sederhana peresmian pasraman tersebut berlangsung di area utama mandala Pura Dharma Kerthi Bintan, merupakan hasil kerja sama jajaran pengurus parisada hindu dharma indonesia kabupaten bintan dengan Si Putu Sumardhaya, ST yang membidangi pendidikan PHDI provinsi Kepri. Segala bentuk keterbatasan dan kendala yang ada hendaknya disikapi dengan bijak dan dijadikan tantangan kedepan, bagaimana pengurus parisada hindu dharma indonesia kabupaten bintan bisa berbenah agar pasraman ini bisa dijadikan tempat belajar agama Hindu khususnya dan nantinya juga diharapkan berfungsi sebagai tempat pendalaman dan pengkajian agama Hindu.

Pasraman Brahma Widya Satwika dengan jumlah murid sampai saat ini baru 20 orang, melaksanakan kegiatan belajar mengajar di area madya mandala pura Dharma Kerthi Bintan pada pukul 10.00 pagi dan sampai saat ini dibantu oleh tenaga pengajar dari Pasraman Jnana Sila Bakti kota Batam. Adapun pembiayaan operasional pasraman dilakukan secara swadaya dan swa kelola umat yaitu baik dengan menarik sumbangan pendidikan ataupun menerima sumbangan dari para donatur.

Dalam kegiatan pelajaran perdana antusiasme siswa dan orang tua sangat tinggi. Berbagai hal ditanyakan, komunikasi dua arah antara murid dan guru sangat variatif, para orang tuapun tidak ketinggalan mengikuti jalannya proses belajar mengajar. "Awalnya saya sangat kawatir karena anak kami sudah memasuki usia sekolah, dimana belajar agama hindu, pengetahuan agama kami sangat terbatas", ungkap orang tua siswa I Made Suriasa yang anaknya telah ikut bergabung di pasraman Brahma Widya Satwika, selain itu Suariasa juga berharap agar setiap guru nantinya tidak lupa menyampaikan pendidikan budi pakerti saat berdiri didepan kelas, agar anak didik memiliki keseimbangan antara intelektual dengan nilai-nilai agama hindu.

Lain halnya dengan yang disampaikan Luh Mangku Suardani: "anak kami lebih hafal mengucapkan assalam walaikum dari pada mengucapakan panganjali om swastyastu, mengingat lingkungan tempat tinggal kami mayoritas umat muslim dan terkadang anak kami mau mengikuti pengajian di mesjid dekat rumah". "Semestinya saya berharap dari dulu ada tempat belajar agama hindu di bintan, namun kami sekarang agak lega setelah ada dan diresmikannya pasraman Brahma Widya Satwika". "Harapan kami jangan hanya anak-anak saja yang belajar agama, tetapi kami orang tua juga perlu mendapatkan pendidikan agama Hindu". "Pelajaran agama hendaknya tidak disamakan dengan ilmu-ilmu lain yang lebih menonjolkan hafalan atau logika, agama harus ditekankan pada aspek keteladanan", demikian mangku suardani mengakhiri ungkapannya.

*Sumbangan laporan oleh Lanang Astawa dari Lagoi-Bintan

 

[Kembali ke Atas]