Kunjungan Ketua Umum PHDI Pusat di Batam 
 
  home

Selasa 14 Nopember 2006 kembali PHDI Provinsi Kepri mencatat sejarah, untuk pertama kalinya Ketua Umum PHDI Pusat, DR I Made Gde Erata, MA yang belum genap sebulan menjabat sebagai ketua umum telah melakukan kunjungan ke Batam. Gde Erata terpilih sebagai Ketua Umum PHDI Pusat untuk periode 2006 – 2011 dalam Mahasaba PHDI IX di Jakarta pada 14 – 18 Oktober yang lalu.

Dalam sambutannya Gde Erata menyebutkan bahwa Provinsi Kepulauan Riau adalah Provinsi yang kedua yang dikunjungi sejak ia terpilih sebagai Ketua Umum, Provinsi yang dikunjungi pertama kali adalah Provinsi Sulawesi Tenggara. Walau demikian, sebenarnya kunjungan ke provinsi Kepri adalah kunjungan kerja yang ke tiga, karena sebenarnya seminggu setelah terpilih, Erata segera ke Bali untuk mohon doa restu ke geria-geria. Dalam perjalanannya ke geria-geria Erata juga mendapatkan masukan-masukan dan bahkan beberapa sulinggih berkomitmen untuk mengadakan pesamuhan dalam waktu dekat nanti untuk menyatukan pandangan. Bagi Erata komitmen ini bak hadiah yang luar biasa, sesuatu yang tidak berani diimpikan namun diinginkan. Sebagaimana kita ketahui bahwa seluruh umat Hindu mengharapkan selesainya masalah dualisme PHDI Bali.

Erata mengakui bahwa sebelumnya ia tidak pernah aktif di PHDI namun berkat dorongan kaum muda dan semangat ngayah yang dimilikinya akhirnya ia sanggup memikul beban mulia ini. Erata mengharapkan semua pengurus PHDI dari tingkat pusat sampai ke daerah agar selalu mengupayakan kesejukan di hati umat. Agama harus memberikan kesejukan, kalau tidak, orang tidak perlu belajar agama. Dalam rapat pengurus PHDI pusat pada sehari sebelumnya, Erata juga mengarahkan pengurus pusat agar pintar menjadi pengelola yang baik, yang fokus pada tugas pokoknya. Atas konsep pura yang menghidupi diri sendiri, yang tengah dikembangkan di Batam, Erata mencatatnya sebagai hal yang positip, suatu konsep yang bisa dicontoh oleh daerah yang lain.

Dalam acara santiaji yang dilkukan setelah sembahyang bersama, sejumlah umat menyampaikan harapan dan pertanyaan. Masukan dari umat lebih banyak tentang peningkatan sosialisasi bisama atau kebijakan PHDI. Erata berulangkali menjawab agar umat mengunjungi web site www.parisada.org.

Berikut adalah petikan dari tanya jawab antara umat Hindu Batam dengan Bapak Erata.

Pertanyaan 1:
Secara aspek legalitas, mana yang mempunyai kekuatan hukum yang lebih baik antara Pura atas nama Yayasan atau Pura atas nama Parisada Hindu Dharma Indonesia?

Jawaban:
Semua Pura sebaiknya atas nama PHDI. Kalau dibawah yayasan, maka akan terbentur dengan UU yayasan. Jika yayasan bubar, maka pura bisa menjadi milik Negara, akan tetapi jika atas nama PHDI, maka umatlah yang menjadi penanggungjawab dan PHDI sebagai lembaga keumatan tidak akan pernah sirna sepanjang jaman.

Pertanyaan 2:
Apakah PHDI akan mensosialisasikan Bhisama yang telah dihasilkan oleh PHDI dalam Pesamuan Agung?

Jawaban:
Bhisama adalah suatu keputusan yang sangat penting, maka dengan demikian perlu dilakukan terobosan-terobosan yang lebih nyata agar semua Bhisama yang telah dihasilkan dapat dimengerti oleh seluruh umat di Nusantara.

Pertanyaan 3:
Dalam hal pementasan Budaya Bali yang baru dilaksanakan oleh PEMDA BALI di Batam. Nampaknya Pemda belum tahu kalau di Batam ada umat Hindu dan telah memiliki organisasi kegamaan PHDI yang solid memiliki aset tentang budaya terutama gamelan dan tarian, bahkan sanggarpun kita sudah punya. Kenapa Pemda Bali tidak berkoordinasi dengan PHDI sebelum melakukan pesona Bali di Batam? Mestinya efisiensi biaya bisa ditekan kalau Pemda Bali menggunakan ini, kenyataan Pemda Bali tidaklah demikian dan lebih memilih menggunakan Event Organizer ketimbang SDM Hindu yang ada di Batam. Ini adalah pemborosan dan terkesan menghambur-hamburkan biaya.

Jawaban:
Beliau akan menyampaikan kepada Pemda Bali agar dalam promosi pariwisata Bali yang dilakukan di luar Bali agar selalu bekerja sama dengan PHDI atau organisasi Hindu yang bernaung dibawah PHDI di lokasi pelaksanaan promosi budaya wisata tersebut.

Pertanyaan 4:
Banyak umat yang pindah agama karena desakan kaum misionaris sangat gencar dengan rayuan memberikan materi terutama kepada umat ekonomi lemah. Bagaimana bapak mengantisipasi hal ini?

Jawaban:
Membentengi ketahanan umat agar tidak mudah dikonversi menjadi pemeluk agama lain hendaknya mendapat perhatian yang lebih lagi di kepengurusan PHDI 2006-2011 ini. Satu satunya jalan adalah Jnana umat seharusnya semakin baik, oleh karena itu daerah-daerah dengan kantong umat Hindu yang potensial mengalami konversi agama, hendaknya didatangi Darma Duta yang menyentuh hati dan membuat umat bangga menjadi Hindu. Para sulinggih juga hendaknya selalu dapat berkeliling memberikan dharma wacana.

Pertanyaan 5:
Katanya PHDI Pusat sudah memiliki website, bagaimana dengan website yang lain, terutama Batam juga telah lama memiliki media komunikasi itu. Bagaimana usaha bapak agar tidak tumpang tindih diantara web bernuansa Hindu?

Jawaban:
Keberadaan www.parisada.org hendaknya menjadi corong terdepan dalam menyebarkan ajaran Dharma di Hindu Nusantara. Kidung dan berbagai macam wirama hendaknya semakin banyak dapat di-download dari website. Umat juga memberikan masukan, agar website selalu memberikan renungan harian, sehingga umat selalu rindu mengunjungi website. Website PHDI pusat hendaknya memiliki hubungan dengan website yang dimiliki oleh PHDI daerah sehingga masing-masing website juga bersaing untuk bersama-sama memajukan ajaran Hindu di Nusantara.

Pertanyaan 6:
Disarankan agar dibentuk tim ahli yang khusus membidangi perbandingan ajaran Weda dengan kitab suci dari agama lain. Dengan demikian, sesuai dengan program kerja hasil Mahasabha, PHDI dengan cepat dapat memberikan tanggapan resmi permasalahan umat yang masuk ke wilayah ajaran suci agama.

Jawaban:
Usulan yang sangat bagus dan akan kita pertimbangkan serta perlu perekrutan SDM yang handal untuk mampu bicara di lintas agama, apalagi sekarang telah ada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang hal-hal berhubungan dengan pemeliharaan kerukunan antara umat beragama di Indonesia. Ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kedamaian bagi bangsa Indonesia.

Pertanyaan 7:
Selama ini umat merasa tidak mengenal apalagi rasa memiliki tentang PHDI. Bagaimana bisa bangga dengan PHDI bila kenal saja belum. Bagaimana usaha Bapak ke depan?

Jawaban:
Kebanggaan terhadap Parisada, hendaknya juga dimulai dengan pembangunan gedung gedung Parisada yang cukup representatif. Disamping menjadi kantor operasional Parisada, kantor ini hendaknya bisa menjadi tempat umat melaksanakan kegiatan yang dapat membangkitkan dan mengembangakan ajaran Hindu. Langkah pertama mungkin dimulai dari kantor Parisada di Jakarta dan Bali. Dari Kantor yang telah representatif diharapkan umat akan tertarik untuk ikut memberikan kontribusi untuk kemajuan Hindu.

Pertanyaan 8:
Bagaimana dengan Badan Dana Punia Nasional yang berjalan belum maksimal dalam kepengurusan Parisada sebelumnya?

Jawaban:
Beliau mengharapkan agar PHDI Kepri memberikan dukungan untuk meningkatkan Dana Punia Nasional yang akan dikumpulkan melalau Badan Dana Nasional. Umat mengharapkan agar opini yang tertanam Ngayah, Layah, Mayah bisa dikurangi menjadi Ngayah saja.

Pertanyaan 9:
Masih banyak terdapat kantong-kantong umat yang lepas control dan tidak terjamah dari pembinaan. Bagaimana program Bapak berkaitan dengan hal ini?

Jawaban:
Kantong-kantong umat Hindu yang masih tersisa hendaknya selalu mendapat perhatian lebih dari PHDI agar dapat mengurangi tekanan-tekanan dari umat non Hindu. PHDI hendaknya selalu dapat mengayomi dan memajukan kearifan lokal sehingga umat tidak tertekan dalam menjalankan ajaran Agama dan berani tampil serta yakin bahwa saya beragama Hindu dan bangga dalam menjalankannya.

Pertanyaan 10:
Saat ini di Batam telah ada Sampradaya seperti Sai Baba dan Haree Krishna. Kebanyakan umat belum mengetahui tentang tujuan Sampradaya ini. Bagaimana eksistensi Sampradaya, apakah diakui oleh Parisada atau tidak? Apakah ajaran intisari Weda boleh dibantah karena caranya berbeda dengan tradisi sebelumnya?

Jawaban:
PHDI mengakui bahwa kedua organisasi spiritual itu merupakan Sampradaya PHDI dan telah mendapatkan pengakuan. Kita akan melakukan sosialisasi dan mengumumkan bahwa PHDI akan mengayomi Sampradaya yang menjalankan ajaran hindu, sehingga antar umat Hindu dapat memahami perbedaan tentang tata cara sebagai perewujudan berbagai macam bentuk bakti kehadapan Ida Hyang Widi Waca.

Pertanyaan 11:
Bagaimana PHDI pusat dalam menjalankan sistem manajerialnya sehingga PHDI di daerah patuh menjalankan program kepada PHDI Pusat?

Jawaban:
PHDI pusat hendaknya menjadi acuan bagi PHDI daerah dan PHDI daerah wajib untuk mengikuti program–program PHDI pusat sehingga kesinambungan proses kerja, mewujudkan visi dan misi bersama, khususnya dalam hal mengembangkan kepemimpinan, manejerial dan pelaksanaan tata cara keagamaan yang dapat memajukan ajaran Hindu yang berdasarkan kitab Weda.

[Kembali ke Atas]