Setelah rampungnya pembangunan fisik di
lokasi yang baru, Pura Satya Dharma Mukakuning dengan resmi diresmikan
secara spiritual melalui sebuah upacara pemlaspasan. Upacara pemlaspasan
ini diadakan bertepatan dengan hari Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag) pada tanggal 4
November 2006.
Sejak pukul 15.00 WIB umat
Hindu di kota Batam telah mulai berdatangan di blok E 14 kawasan
industri Batamindo Mukakuning. Persiapan upacara pemlaspasanpun mulai
dilakukan dengan arahan langsung dari ketua panitia upacara Si Putu
Sumardhaya melalui pengeras suara. Perangkat upacara dipersiapkan di
dalam utamaning mandala pura sedangkan perangkat gamelan ditata di jaba
mandala. Selanjutnya umat membentuk barisan untuk persiapan acara yang
pertama yaitu prosesi "menjemput" Ida Betara di lokasi pura di blok W.
Tepat pukul 15.30 WIB barisan umat mulai berangkat dari blok E menuju
blok W. Bagian depan barisan ini diisi oleh umat yang bertugas membawa
keris, pengider-ider dan umbul-umbul. Barisan ini diikuti oleh barisan
umat pembawa pratima, daksina serta gebogan. Sedangkan pada bagian
belakang barisan terdapat umat pembawa jempana dan barong serta sekeha
gong yang mengiringi perjalanan umat dengan tabuh beleganjur.
Setelah iring-iringan umat sampai di blok W, dilaksanakanlah upacara
yang berikutnya yaitu upacara pralina pura. Proses pralina bangunan pura
yang lama ini ditandai dengan pembongkaran bagian atas bangunan
padmasana dan candi bentar. Bongkahan dari bangunan tersebut kemudian
diletakkan di dalam jempana. Setelah prosesi pralina selesai, umat
kembali bersatu dalam barisan seperti semula untuk memundut Ida Betara
menuju pura di blok E.
Pada saat
iring-iringan umat sampai di blok E, kemudian dipentaskan tari Rejang
Dewa yang dibawakan oleh penari-penari gadis. Tari ini bermakna sebagai
tari penyambutan untuk kedatangan Ida Betara (Hyang Widhi) di tempat
yang baru. Tari ini juga ditujukan untuk mengundang dewa dan dewi untuk
turun dan menyaksikan upacara. Perlu dicatat bahwa inilah kali pertama
di Batam tari Rejang Dewa dipentaskan lengkap dengan gelungan.
Setelah tari Rejang Dewa selesai, semua sarana upacara yang dibawa dalam
iring-iringan diletakkan di depan padmasana. Kemudian rangkaian upacara
dilanjutkan dengan pelaksanaan yadnya Agni Hotra. Agni Hotra ini
dilakukan sebagai pengganti upacara pecaruan yang biasanya dilakukan
dalam setiap upacara pemlaspasan. Selain upacara Agni Hotra ini
dilakukan pula upacara mendem pedagingan. Penanaman pedagingan yang
pertama dilakukan di belakang padmasana yang dupimpin oleh Jero Mangku
Satria Yasa.

Upacara pemlaspasan ini juga dikunjungi oleh beberapa undangan yang
datang ke blok E pada pukul 19.00 WIB. Beberapa undangan yang hadir pada
malam itu antara lain adalah manajer PT. BIC (John Sulistiawan) dan
beberapa tokoh agama dari unit kerohanian Katolik, Kristen dan Islam.
Undangan disambut dengan persembahan tari Panjembrama yang dibawakan
oleh anak-anak hindu Batam. Acara juga diisi dengan penyampaian sambutan
dari ketua UKHB Yudiantara dan John Sulistiawan. John Sulistiawan
kemudian meresmikan lokasi baru pura Satya Dharma dengan ditandai dengan
penanda-tanganan prasasti.
Setelah itu
upacara pemlaspasan dilanjutkan kembali dengan pelaksanaan mendem
pedagingan berikutnya. Penanaman pedagingan kedua dilakukan di candi
bentar dan pedagingan yang ketiga ditanam di arca Ganesha. Setelah
upacara mendem pedagingan selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara
persembahyangan bersama. Bertindak sebagai pembawa dhama wacana pada
malam itu adalah Wayan Catra Yasa (ketua PHDI Kepri).
Dalam rangkaian upacara pemlaspasan pura Satya Dharma ini dilakukan
acara persembahyangan selama tiga hari berturut-turut yang dimulai sejak
hari Sabtu (4 November 2006) sampai dengan hari Senin (6 November 2006).
Hari Senin merupakan hari pelaksanaan upacara penyimpenan yang merupakan
akhir dari rangkaian upacara pemlaspasan.
[Kembali ke Atas]