KUNJUNGAN SISWA SMP MAETREYAWIRA KE PURA AGUNG AMERTHA BHUANA
 
  home

Sebanyak 56 siswa Kelas 1 SMP Maetreyawira Batam berkunjung ke Pura Agung Amertha Bhuana pada Sabtu 1 September 2007 dalam rangka memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Hindu. Pengetahuan tentang Hindu yang mereka dapatkan selama ini disekolah misalnya dalam mata pelajaran Sejarah hanya sepotong –sepotong. Seperti yang diakui oleh guru sejarah yang mendampingi mereka saat itu yaitu Ibu Johana. Kami sudah mengagendakan siswa kami untuk berkunjung ke tempat-tempat ibadah masing-masing agama yang ada di batam, kata Johana lagi.

Rombongan siswa tiba di Pura Agung Amertha Bhuana sekitar pukul 14:30. Beberapa pengurus PHDI baik Propinsi Kepri maupun Kota Batam sengaja meluangkan waktunya untuk menyambut kedatangan para siswa tersebut. Para siswa dipersilakan untuk duduk dengan rapi di pelataran Mandala Utama. Cuaca yang cukup bersahabat membuat acara yang dipandu oleh sekretaris PHDI Propinsi I Made Kasa Astawa menjadi lebih akrab dan segar.

 

Kesempatan pertama diberikan kepada ketua PHDI Propinsi I Wayan Catrayasa untuk menjelaskan tentang Agama Hindu seperti dari mana Hindu berasal, siapa nabi Hindu, tempat ibadah Agama Hindu dan tentu saja sejarah berdirinya Pura Agung Amertha Bhuana beserta makna dari masing-masing symbol yang ada di sekitar Pura. Diakhir paparannya Catrayasa memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk bertanya. Sebagian besar dari siswa angkat tangan untuk bertanya. Namun mengingat waktu yang tersedia dan antusiasnya para siswa untuk bertanya, akhirnya Wayan Catrayasa memberikan nomor Hpnya yang bisa di hubungi jika masih ada pertanyaan seputar Hindu.

Kesempatan kedua diberikan kepada Wakil Ketua PHDI Propinsi yaitu Siputu Sumardaya untuk memberikan sedikit penjelasan tentang ajaran Hindu diantaranya tentang Catur Purusartha, dan Catur Marga. Dengan diselingi humor-humor ringan membuat apa yang disampaikannya menjadi lebih mengena di hati para siswa. Sepertinya tidak ada kata-kata dari Siputu yang terlewatkan oleh para siswa untuk dicatat. Setiap ada yang mau bertanya, siswa langsung mengangkat tangannya. Jenis pertanyaannyapun bervariasi dari yang simple sampai yang tinggi misalnya masalah kasta di Hindu. Seorang siswa bertanya sambil menunjuk ke atas padmasana, apa sih namanya yang paling atas itu. Para siswa kontan gerrrr ketika Siputu menjawab, oo itu namanya penangkal petir. Namun dengan pemahaman dan jam terbangnya Siputu membuat setiap pertanyaan siswa dengan mudah bisa terjawab. Siputu juga tidak mau ketinggalan harus memberikan nomor Hpnya untuk bisa dihubungi lagi oleh para siswa.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 16.30 dan rombongan siswa harus pamitan untuk kembali ke sekolahnya. Di wajah kedua pengurus PHDI terlihat begitu terharu. Oya, kita juga punya siswa Pasraman Jnana Sila Bhakti. Kapan siswa kita juga mau diajak berkunjung ke tempat ibadah agama lain? (red).

 

 

[Kembali ke Atas]