Dharma Tula Hindu Batam Dengan I Made Titib
 
  home

Sehari setelah Dharma Santi, umat Hindu di Batam mendapat kesempatan berharga untuk mengikuti Dharma Tula dengan I Made Titib. Dharma Tula ini diadakan dalam rangkaian perayaan hari raya Nyepi tahun baru Caka 1929. Dharma Tula ini mengambil judul: "Membangun Mentalitas Karma Marga: Menjadikan Kerja Sebagai Wujud Bakti".

Dharma Tula ini diadakan pada tanggal 29 April 2007 dengan bertempat di Gedung PLN Batam. Acara dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan Puja Tri Sandya dan Meditasi bersama yang dipimpin oleh I Wayan Catra Yasa, ketua PHDI Provinsi Kepulauan Riau. Setelah itu acara Dharma Tula dimulai dengan pencerahan rohani yang diberikan oleh I Made Titib. Bertindak sebagai moderator pada acara ini adalah I Wayan Jasmin yang juga merupakan ketua panitia perayaan Nyepi tahun baru Caka 1929.

Dharma Tula ini juga diisi dengan acara tanya jawab antara umat dengan I Made Titib. Tampak antutiasme umat yang hadir cukup tinggi untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan agama Hindu. Umat tampkanya sadar bahwa Dharma Tula ini merupakan kesempatan yang langka untuk menambah pengetahuan keagamaan. Karena banyaknya pertanyaan yang muncul maka acara Dharma Tula baru dapat diakhiri pada pukul 16.00 WIB.

Berikut merupakan rangkuman dari makalah Dharma Tula:

Dalam Hindu sebenarnya banyak dijumpai ajaran-ajaran yang dapat memberi motivasi untuk bekerja keras, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Seperti salah satu cuplikan Reg Weda VII. 32. 9 berikut:

"Wahai orang-orang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah bekerja dan dengan tekad yang keras mencapai tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kekayaan. Orang yang semangat, berhasil, hidup bahagia dan menikmati kemakmuran. Para Dewa tidak akan menolong orang yang bermalas-malasan"

Bekerja keras yang didasari dengan hati yang tulus dan Sraddha (keimanan) yang mantap merupakan wujud dari pengamalan ajaran Karma Yoga. Ajaran ini mendorong sesorang untuk senantiasa efektif dan kreatif dalam memenuhi tuntutan hidupnya. Swami Sivananda menyatakan bahwa Karma Yoga adalah jalan kegiatan, yaitu pelayanan tanpa pamrih yang membawa pencapaian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Karma Yoga terdapat motto: kewajiban untuk kewajiban sendiri. Kerja adalah pemujaan (bhakti) sehingga setiap pekerjaan dapat dialihkan menjadi suatu pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap orang hendaknya melakukan kewajiban sesuai dengan profesi/swadharmanya dan asramanya (tahap kehidupan) masing-masing. Tidak ada manfaatnya meninggalkan pekerjaannya sendiri dan condong mengerjakan pekerjaan orang lain. Karma Yoga bukanlah tipe yoga paling rendah. Pekerjaan seperti mencuci piring, mengangkut air dan pekerjaan kasar lainnya bukanlah hina. Sri Krishna, Tuhan yang menguasai ketiga dunia berperan sebagai kusir Arjuna. Bahkan beliau pernah berperan sebagai pengembala.

Karma Yoga adalah suatu etos kerja. Semua pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi keikhlasan, dan melakukan berbagai kegiatan sebagai aktivitas yadnya. Setiap perbuatan baik yang dilandasi keikhlasan akan menghasilkan pahala kemuliaan yang bisa didapatkan kini maupun pada masa datang. "Your hand on work, but your heart on God"

Untuk dapat mewujudkan kerja sebagai bhakti maka penting untuk diketahui beberapa kiat berikut:

  1. Memahami pekerjaan, tugas dan kewajiban serta tanggung jawab sesuai dengan swadharma masing-masing.

  2. Menjaga integritas diri seperti kejujuran, ketulusan, kerja keras dan berprilaku sopan.

  3. Mewujudkan keramah-tamahan sejati, tidak perlu malu untuk meminta maaf bila melakukan kesalahan.

  4. Membina hubungan sosial yang mantap sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana.

  5. Memilih pergaulan yang tidak menyesatkan.

Untuk merealisasikan dan melaksanakan kiat-kiat tersebut di atas maka hendaknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membiasakan diri (abhyasa) dan melatih diri ke hal-hal yang baik.

  2. Mengikhlaskan diri (tyaga).

  3. Tidak mengikatkan diri (vairagya).

  4. Mensyukuri (santosa)

  5. Seimbang dalam suka dan duka (shitaprajna).

Ketahanan mental berkaitan dengan kepribadian dan kecerdasan yang perlu terus dikembangkan dan memandang segala suatu yang buruk adalah cobaan atau ujian sehingga tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Spiritual berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan sikap bhakti kepada-Nya dengan senantiasa berdoa dan memamdang setiap pekerjaan sebagai wujud bhakti kepada-Nya.

 

[Kembali ke Atas]