Bhakti Marga adalah salah satu jalan menuju Hyang Widhi
dengan memuja-Nya secara tulus ikhlas. Mereka yang melakukan dengan baik
disebut Bhakta. Bhakti ada dua kelompok besar yaitu :
Para Bhakti dan Apara
Bhakti. Para artinya utama, sehingga Para Bhakti disebut sebagai cara memuja
Hyang Widhi yang utama (nomor satu), sedangkan Apara Bhakti adalah cara memuja
Hyang Widhi yang tidak utama (nomor dua). Para Bhakti sulit dilaksanakan tanpa
Apara Bhakti, demikian sebaliknya.
Yadnya adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Yadnya
dibagi dalam empat kelompok besar yaitu :
1) Widhi Yadnya(Panca Yadnya) 2) Drwya Yadnya 3)
Jnana Yadnya dan 4) Tapa Yadnya.
Widhi Yadnya(Panca Yadnya) adalah yadnya yang dilaksanakan
karena adanya Tri Rnam (tiga jenis hutang manusia atas kehidupannya) yaitu :
Dewa Rnam(hutang kepada Hyang Widhi karena atman bisa bereinkarnasi menjadi
manusia), Rsi Rnam(hutang kepada Maha Rsi yang menerima wahyu Weda dan para
Rsi/Pendeta yang menyebarkan Weda/Agama Hindu sehingga kita menjadi manusia
yang berilmu) dan Pitra Rnam (hutang kepada leluhur/ayah-ibu karena kita
dilahirkan dan dipelihara).
Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya adalah yadnya yang
dilaksanakan dalam kaitan Dewa Rnam.
Rsi Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan
dalam kaitan Rsi Rnam,
Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan
dalam kaitan Pitra Rnam. Dalam bahasa sehari-hari, Widhi Yadnya disebut sebagai
Panca Yadnya.Widhi Yadnya atau Panca Yadnya tergolong APARA BHAKTI,
sedangkan Drwya Yadnya, Janana Yadnya dan Tapa Yadnya termasuk kriteria PARA
BHAKTI. Drwya yadnya adalah ber-dana punia, Jnana Yadnya adalah
belajar-mengajar (misalnya ber- dharmacacana dan dharmatula), Tapa yadnya
adalah pengendalian diri agar senantiasa hidup di jalur dharma.
Khusus tentang Drwya Yadnya (berdana punia) disebut
sebagai ajaran Dana Paramita yaitu ajaran yang membimbing manusia menuju
kesempurnaan lahir-bathin yang mengantarkannya ke gerbang Sorga tanpa
penderitaan.
Sumber sastra mengenai Dana Paramita adalah : 1) Manawa
Dharmasastra IV.32,226-235, VII 84-85. 2) Sarasamuscaya 169-172, 174-175. 3) Sanghyang Kamahayanikan 56-58.
Dalam filsafat Wairagya dikatakan bahwa Drwya
Yadnya merupakan salah satu cara untuk melepaskan keterikatan manusia pada
benda-benda keduniawian yaitu benda-benda/materi yang hanya memuaskan nafsu
indria.
Tradisi beragama (Hindu) di Bali lebih banyak menekankan
pada ritual (upacara Panca Yadnya) padahal itu tergolong APARA BHAKTI. Sedikit
yang memahami/menyadari penting dan utamanya PARA BHAKTI yaitu : Drwya Yadnya,
Jnana Yadnya, dan Tapa Yadnya.
Begitulah sering ditemukan orang yang rajin
berupacara Yadnya, tetapi kayika (perbuatannya), wacika (perkataannya) dan
manacika (pikirannya) menyimpang dari inti ajaran Agama Hindu. Mereka mengira
bahwa jika sudah berupacara Yadnya mereka sudah melaksanakan ajaran Agama,
padahal belum sempurna. Tidak sedikit Pandita (Sulinggih) di Bali memposisikan
dirinya hanya sebagai "Pemuput Upacara" Ini tentu merugikan
eksistensi Hindu di Bali. Kenapa para Sulinggih tidak meniru apa yang dilakukan
oleh Para Pendeta dizaman dahulu, misalnya Mpu Kuturan, yang berhasil
menyatukan berbagai sekte Hindu dalam konsep Trimurti, serta mengembangkannya
ke pelosok-pelosok pedesaan sehingga sekarang kita mengenal adanya Tri Kahyangan.
|